BINLAT di Kediri mengintegrasikan metode rasa, otak, dan pengalaman dalam pendidikan karakter.
KOSONGSATU.ID—Model pendidikan karakter berbasis metode alternatif diterapkan dalam program BINLAT Karakter Jati Diri Bangsa di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok Kediri. Pelatihan ini menekankan integrasi pendekatan rasa, neuro-pedagogi, dan pembelajaran berbasis pengalaman.
Ketua Harian Yayasan Persada Soekarno Ndalem Pojok Kediri, Kushartono, mengatakan BINLAT dirancang untuk menjawab kebutuhan pendidikan karakter yang selama ini kurang menyentuh aspek batin dan kesadaran diri peserta didik.
“Pendidikan kita terlalu lama berhenti di kepala. BINLAT ini kami rancang agar nilai kebangsaan itu masuk ke rasa, lalu menjadi kehendak dan tindakan,” ujar Kushartono.
Metode Rasa sebagai Fondasi
Menurut Kushartono, metode inti dalam BINLAT adalah Metode Rasa yang berpijak pada kerangka Rasa, Cipta, dan Karsa dalam tradisi tasawuf Nusantara.
“Kami ingin peserta tidak sekadar paham sejarah dan nasionalisme, tapi merasakannya. Dari rasa itulah lahir kejernihan batin, lalu tekad untuk berbuat bagi bangsa,” kata dia.
Pendekatan ini, lanjutnya, dimaksudkan agar nilai jati diri bangsa tidak berhenti sebagai pengetahuan normatif, melainkan tumbuh menjadi kesadaran personal.
Neuro-Pedagogi dan Lingkungan Aman
Metode rasa dipadukan dengan pendekatan neuro-pedagogi yang berbasis cara kerja otak. Lingkungan belajar sengaja dirancang tenang dan aman secara psikologis.
“Kami memastikan suasana belajar tidak menekan. Ketika emosi stabil, otak depan terbuka. Di situlah nilai karakter bisa masuk lebih dalam dan bertahan lama,” ujar Kushartono.
Ia menekankan bahwa pembentukan karakter tidak efektif jika dilakukan dalam suasana takut atau penuh tekanan.
Belajar dengan Mengalami
BINLAT juga mengandalkan pembelajaran berbasis pengalaman. Peserta dilibatkan langsung dalam aktivitas, pengamatan lapangan, diskusi, dan refleksi.
“Anak-anak tidak kami suruh hanya mendengar. Mereka mengalami sendiri, berdialog, lalu merefleksikan makna dari pengalaman itu,” kata Kushartono.
Teknik Neuro-Linguistic Programming (NLP) digunakan sebagai penguat untuk membangun kepercayaan diri dan pola pikir positif peserta didik.
Sejarah sebagai Ruang Hidup
Keberadaan Situs Persada Soekarno dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual melalui pendekatan genius loci.
“Belajar di tempat ini berbeda. Ada energi sejarah. Kami ingin peserta merasakan kembali denyut perjuangan para pendiri bangsa, bukan sekadar membacanya di buku,” ujarnya.
Diskusi kelompok dan simulasi peran digunakan untuk melatih empati, daya kritis, serta kemampuan mengambil keputusan berbasis nilai.
Mengunci Nilai Menjadi Karakter
Tahap akhir BINLAT difokuskan pada refleksi dan internalisasi nilai agar seluruh pengalaman belajar melekat sebagai karakter.
“Semua proses ini kami kunci di akhir. Tujuannya agar nilai spiritual, intelektual, kultural, dan etika itu menetap, bukan hilang setelah pelatihan selesai,” kata Kushartono.
Seluruh rangkaian BINLAT didampingi instruktur bersertifikasi BNSP. Program ini menjadi uji coba pendekatan pendidikan karakter terpadu yang memadukan rasa, nalar, dan pengalaman dalam satu kesatuan pembelajaran.***




Tinggalkan Balasan