Presiden AS Donald Trump melontarkan cemoohan sarkastis kepada Inggris yang baru berniat mengirim kapal induk ke Timur Tengah setelah perang melawan Iran “hampir dimenangkan”. Sikap ini memicu krisis diplomatik terbesar dalam sejarah hubungan kedua negara.


KOSONGSATU.ID—Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer terkait lambatnya respons Inggris memberikan dukungan terhadap serangan AS dan Israel ke Iran. Melalui platform Truth Social pada Sabtu (7/3/2026), Trump menulis pernyataan yang memicu kontroversi.

“Inggris Raya, sekutu kami yang dahulu besar, mungkin yang terbesar dari semuanya, akhirnya mempertimbangkan untuk mengirim dua kapal induk ke Timur Tengah,” tulis Trump.

“Tidak apa-apa, Perdana Menteri Starmer, kami tidak lagi membutuhkannya, tetapi kami akan mengingatnya. Kami tidak membutuhkan orang yang bergabung dalam perang setelah kami menang!” sambung Trump.

Pernyataan ini muncul setelah Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan peningkatan kesiapan kapal induk HMS Prince of Wales. Waktu persiapan berlayar dipangkas menjadi lima hari untuk kemungkinan pengerahan ke Timur Tengah.

Kronologi Penolakan Awal dan Serangan ke Pangkalan Inggris

Krisis ini bermula dari sikap hati-hati pemerintahan Starmer. Inggris awalnya menolak permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militernya dalam serangan terhadap Iran . London menilai keterlibatan tanpa justifikasi hukum yang jelas berpotensi melanggar hukum internasional.

Situasi memaksa Inggris berbalik arah setelah pangkalan udara RAF Akrotiri di Siprus diserang drone pada Minggu (1/3/2026) malam. Serangan itu menimbulkan kerusakan minimal dan tidak menyebabkan korban jiwa . Pangkalan militer Inggris di Bahrain juga nyaris terkena serangan rudal Iran dengan 300 personel militer Inggris hanya berjarak beberapa ratus meter dari titik ledakan.

Starmer akhirnya mengizinkan AS menggunakan pangkalan RAF Fairford di Gloucestershire dan Diego Garcia di Samudra Hindia untuk “tujuan pertahanan spesifik dan terbatas” . Empat pesawat pengebom B-1 Lancer AS mendarat di pangkalan Inggris pada Jumat dan Sabtu untuk operasi mencegah rudal Iran.

Data Korban dan Eskalasi Konflik

Konflik yang meletus sejak 28 Februari 2026 telah menimbulkan korban signifikan. Sebanyak 1.332 orang dilaporkan tewas di Iran, sementara AS mengonfirmasi enam personel militernya gugur . Korban jiwa juga dilaporkan di Lebanon, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Irak.

Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan sejumlah negara Teluk. Bandara Dubai dan Abu Dhabi sempat ditutup, sementara Bahrain melaporkan pencegatam puluhan rudal dan drone.

Respons Inggris dan Pembelaan Starmer

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Inggris berupaya mempertahankan martabat militer mereka. “HMS Prince of Wales selalu dalam kondisi siap tinggi. Kami meningkatkan kesiapan kapal induk, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk berlayar dapat dikurangi,” ungkapnya.

Di hadapan parlemen, Senin (2/3/2026), Starmer membela mati-matian keputusannya. “Kami tidak bergabung dengan serangan ofensif AS dan Israel. Dasar keputusan kami adalah pertahanan diri kolektif bagi sahabat dan sekutu lama, serta perlindungan bagi nyawa warga negara Inggris,” ujarnya.

Starmer menegaskan bahwa kebijakan luar negerinya tidak bisa didikte oleh emosi atau tekanan pihak luar. “Adalah tugas saya untuk menilai apa yang sesuai dengan kepentingan nasional Inggris. Itulah yang telah saya lakukan dan saya tetap teguh pada pendirian saya,” tegasnya.

Dampak Retaknya Hubungan Istimewa

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam konferensi keamanan regional di Miami, tampak memberikan kritik terselubung terhadap Inggris dan negara lain seperti Spanyol yang menolak penggunaan pangkalan untuk serangan ke Iran.

“Pada saat kita menyadari bahwa sekutu, ketika dibutuhkan, mungkin tidak ada di sana untuk Anda, ini adalah negara-negara yang sebelumnya selalu ada untuk kami,” kata Rubio, Sabtu (7/3/2026).

Sebelumnya, pada 3 Maret 2026, Trump menyatakan “tidak senang dengan Inggris” dalam pertemuan dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz. Ia bahkan menyebut Starmer “bukan Winston Churchill” yang dihadapinya.

Analis militer menilai retorika Trump membuktikan bahwa keharmonisan politik antara dua negara adidaya ini sedang berada di titik terendah. Meskipun militer mulai berkolaborasi di lapangan, luka diplomatik akibat cemoohan terbuka diprediksi akan sulit dipulihkan dalam waktu dekat.***