Sebagian warga Pasuruan berpuasa hari ini sementara lainnya merayakan tradisi Megengan sore nanti.
KOSONGSATU.ID–Suasana berbeda menyelimuti Kota Pasuruan, Jawa Timur, pada Rabu siang, 18 Februari 2026. Kota yang dikenal sebagai Kota Santri ini menampilkan pemandangan sosial yang unik akibat perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah.
Sebagian masyarakat yang berafiliasi dengan Muhammadiyah telah memulai ibadah puasa hari ini. Aktivitas di masjid-masjid amal usaha Muhammadiyah, seperti Masjid Al-Kautsar, sudah terlihat hidup sejak malam sebelumnya dengan pelaksanaan shalat Tarawih perdana.
Namun, denyut kehidupan yang berbeda terasa di kampung-kampung yang memegang teguh tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Aroma kue apem dan persiapan kenduri justru menyeruak di berbagai sudut pemukiman.
Masyarakat kelompok ini mengikuti keputusan pemerintah yang menetapkan awal puasa jatuh pada Kamis esok. Mereka mengisi hari Rabu ini dengan tradisi Megengan atau Munggahan sebagai penanda datangnya bulan suci.
Perbedaan ini tidak memicu gesekan, melainkan memunculkan toleransi alami. Ustaz H. Abdullah, seorang pengurus Masjid Jami’ di wilayah Bangil, menceritakan harmonisnya hubungan antarwarga meski berbeda keyakinan soal tanggal.
“Suasananya unik tapi damai. Tetangga sebelah rumah saya orang Muhammadiyah sudah puasa hari ini, tapi kami hari ini justru sedang masak besar untuk kirim doa Megengan nanti sore,” ungkap Abdullah saat ditemui Rabu siang.
Warung Makan Pasang Tirai
Pemandangan menarik juga terlihat di sektor kuliner dan warung makan sepanjang jalan utama Pasuruan. Para pedagang menerapkan strategi jalan tengah untuk menghormati kedua belah pihak.
Warung-warung tetap buka untuk melayani warga yang belum berpuasa. Namun, mereka menutup bagian depan warung dengan tirai yang lebih rapat dibandingkan hari biasa.
Langkah ini diambil untuk menghormati warga Muhammadiyah yang sedang menahan lapar dan dahaga. Abdullah menambahkan bahwa sikap saling menghormati ini sudah menjadi budaya yang mengakar di Pasuruan.
“Kami saling menghormati, warung makan pun pakai tirai lebih rapat,” tambahnya.
Fenomena ini terjadi karena perbedaan metode hisab dan rukyat. Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sementara pemerintah menggunakan kriteria Imkanur Rukyat MABIMS.
Meskipun hilal belum terlihat di Indonesia pada Selasa petang, Muhammadiyah menetapkan puasa hari ini karena posisi hilal sudah wujud di belahan bumi lain. Sementara pemerintah menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.***





Tinggalkan Balasan