Universitas Nasional (Unas) Jakarta Selatan menuai kritik tajam setelah meliburkan kegiatan akademik dan menunda jadwal Ujian Akhir Semester (UAS) demi seremoni pengukuhan Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai Profesor Kehormatan pada Rabu (11/2).
KOSONGSATU.ID–Ribuan mahasiswa Universitas Nasional (Unas), Jakarta Selatan, dipaksa menelan pil pahit pada Rabu pagi (11/2/2026). Di tengah momentum krusial Ujian Akhir Semester (UAS) Genap yang seharusnya berlangsung pekan ini, gerbang kampus justru tertutup rapat bagi kegiatan akademik mahasiswa.
Bukan karena darurat bencana, melainkan demi sterilisasi area untuk menggelar karpet merah bagi seremoni pengukuhan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, sebagai Profesor Kehormatan (Honorary Professor) bidang Sejarah Kebudayaan.
Keputusan rektorat meliburkan kegiatan akademik secara total—termasuk menunda jadwal UAS—demi kelancaran acara seremonial pejabat negara ini memicu gelombang kritik keras. Narasi “Kampus Disegel demi Pejabat” mencuat, menyoroti ironi prioritas institusi pendidikan yang dinilai lebih mementingkan panggung politik ketimbang hak dasar mahasiswa.
Ujian Mengalah pada Seremoni
Berdasarkan penelusuran di lapangan, Surat Edaran (SE) Rektorat yang diterbitkan beberapa hari sebelum acara secara mendadak menetapkan tanggal 11 Februari 2026 sebagai hari libur kegiatan akademik. Padahal, sesuai Kalender Akademik Unas, tanggal 9 hingga 14 Februari adalah pekan UAS.
Ayesha Putri, mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unas, mengonfirmasi kekacauan jadwal tersebut.
“Betul (ada penundaan). Kami sudah konfirmasi berita tersebut ke dosen kami sejak surat keluar. Kampus diliburkan total khusus hari ini untuk acara pengukuhan. Bingung juga, kita bayar kuliah untuk ujian dan belajar, tapi jadwal akademis digeser begitu saja demi acara pejabat,” ujar Ayesha saat dihubungi di lokasi, Rabu (11/2).
Kontras Tajam: VIP di Dalam, Mahasiswa Tertahan di Luar
Suasana kontras terlihat mencolok sejak pukul 08.00 WIB. Area dalam kampus, khususnya Auditorium Unas, disterilkan untuk menyambut tamu VVIP. Sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Ketua MPR Ahmad Muzani dan Menko Pangan Zulkifli Hasan, tampak hadir memberikan selamat.
Sementara itu, di luar pagar kampus, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai aliansi tertahan. Penjagaan ketat oleh aparat keamanan dan pihak internal kampus membuat mahasiswa tidak bisa masuk, baik untuk beraktivitas maupun menyuarakan protes.
Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Unas, Charlesius Rustam, mengecam keras situasi ini. Ia menilai kebijakan kampus sebagai bentuk “pelacuran akademik” yang nyata.
“Sejak Senin (9/2) sudah UAS hari pertama. Rabu ini harusnya hari ketiga, tapi sengaja diliburkan. Kami menduga ini disengaja agar tidak ada demonstrasi di dalam saat acara berlangsung. Mahasiswa dilarang masuk, kami tertahan di luar pagar rumah kami sendiri,” tegas Charlesius.
Lebih lanjut, Charlesius menyoroti substansi pemberian gelar tersebut. “Gelar profesor kehormatan seharusnya lahir dari rekam jejak akademik yang konsisten dan teruji, bukan sekadar akomodasi politik. Kampus seharusnya menjadi ruang kebajikan intelektual, bukan panggung pejabat,” tambahnya.
Orasi Ilmiah dan Pembelaan Kampus
Di dalam auditorium yang sejuk, kontroversi di luar gerbang tak terdengar. Fadli Zon dengan lancar menyampaikan orasi ilmiah pengukuhannya yang bertajuk “Politik Kebudayaan Mega-Diversity”.
Dalam pidatonya, Fadli menekankan posisi strategis kebudayaan. “Benang merah pemikiran ini menegaskan bahwa kebudayaan merupakan infrastruktur makna yang menopang politik… Mega-diversity Indonesia bukan sekadar fakta demografis, melainkan episteme politik kebudayaan,” ucapnya di hadapan Senat Terbuka.
Pihak Unas sendiri berdalih bahwa pemberian gelar ini telah melalui pertimbangan matang atas kontribusi pemikiran Fadli Zon dalam pelestarian sejarah dan budaya nasional, serta dedikasinya di dunia perbukuan dan warisan budaya (heritage).
Catatan Merah Akademik
Fenomena “obral gelar” Doktor maupun Profesor Kehormatan (Honoris Causa) kepada politisi dan pejabat publik belakangan ini memang menjadi sorotan tajam akademisi nasional. Namun, kasus di Unas ini mencatat preseden baru: penutupan akses kampus dan penundaan ujian resmi mahasiswa demi penyelenggaraan seremoni tersebut.
Bagi ribuan mahasiswa Unas yang hari ini harus memutar balik kendaraan karena ujiannya dibatalkan, peristiwa Rabu ini menjadi bukti nyata pergeseran nilai di menara gading: ketika kenyamanan pejabat negara lebih diutamakan di atas integritas jadwal akademik.***




Tinggalkan Balasan