Guru disebut Soekarno sebagai “rasul peradaban” yang menjaga nilai kejujuran dan kemanusiaan.
KOSONGSATU.ID–Bangsa Indonesia memperingati Hari Guru Nasional setiap 25 November. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, kerap menegaskan peran penting guru sebagai penjaga peradaban dan pembentuk karakter bangsa. Dalam berbagai pidatonya, ia menyebut guru sebagai “rasul peradaban”, simbol bahwa selama guru masih hadir, peradaban tidak akan runtuh.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam naskah Menjadi Guru di Masa Kebangunan yang dibacakan pada Kongres Nasional Pertama Perguruan Taman Siswa, 13 Agustus 1930. Di tengah meningkatnya pengaruh fasisme menjelang Perang Dunia II, Soekarno mengingatkan, “Demokrasi hancur, jiwa kejujuran hancur.”
Tiga Pesan Soekarno untuk Profesi Guru
Dalam Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I halaman 613–614, Soekarno mengutip prinsip moral berbahasa Belanda: seorang manusia hanya bisa mengajar apa yang benar-benar ada pada dirinya. Pesan pertama menekankan pentingnya integritas. “Guru tidak bisa main komedi,” tulis Soekarno. Karakter guru akan menurun pada murid. “Guru yang hakikatnya hijau akan ‘beranak’ hijau.”
Pesan kedua mendorong guru terus meningkatkan kompetensi. Guru diminta tidak menjadikan profesi ini sebagai pelarian, melainkan jalan untuk membangun generasi baru yang berilmu dan berintegritas.
Pesan ketiga menyoroti bahwa pengalaman hidup guru ikut terbawa ke ruang kelas. Karena itu, guru perlu memahami nilai apa yang dibawanya kepada peserta didik.
Filosofi Para Tokoh Pendidikan
Ki Hadjar Dewantara menggambarkan guru sebagai “pamong” yang menuntun kodrat anak menuju kemerdekaan berpikir melalui semboyan ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, menegaskan pendidikan harus melahirkan manusia beriman dan bermanfaat bagi sesama, selaras dengan teologi Al-Ma’un.
Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, juga menilai pendidikan “maha penting” karena mencerdaskan akal dan hati.
Seruan untuk Perbaikan Kesejahteraan Guru
Di tengah penghormatan terhadap profesi guru, persoalan kesejahteraan masih mencolok. Akun Threads @akangguru, Senin (17/11/2025), menyebut seorang guru hanya menerima Rp516.000 per bulan, bahkan tersisa sekitar Rp2.200 per hari setelah potongan cicilan koperasi.
Keluhan juga datang dari ribuan guru madrasah swasta terkait proses seleksi P3K, ditambah beban administrasi dan perubahan kurikulum yang kerap berganti.
Peringatan Hari Guru kembali menegaskan pentingnya kebijakan yang berpihak pada guru, sejalan dengan pesan para pendiri bangsa tentang martabat mereka sebagai penjaga peradaban. ***




Tinggalkan Balasan