Simulasi per 7 Oktober 2026 memperkirakan tambahan pendapatan bersih Rp14,5 juta bagi ekonomi lokal dari pembangunan satu Rumah Syukur. Namun, hasilnya bergantung pada asumsi sumber dana yang belum tercatat lengkap.

KOSONGSATU.ID – Pembangunan Rumah Syukur menggerakkan pembelian material dan kebutuhan relawan. Tetapi, berapa banyak tambahan pendapatan yang benar-benar diterima wilayah tempat rumah itu dibangun?

Simulasi ekonomi mikro dalam kajian per 7 Oktober 2026 memperkirakan tambahan bersih Rp14,5 juta per rumah pada skenario dasar. Nilai itu sekitar separuh dari pendapatan lokal total Rp28,5 juta yang dihitung model.

Hasilnya berkisar antara Rp6,6 juta pada skenario konservatif dan Rp30,7 juta pada skenario optimis. Angka-angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan asumsi, belum menjadi hasil pengukuran transaksi di lapangan.

Mengapa asal uang menentukan hasil?

Perhitungan itu membedakan dana dari dalam wilayah dan dana dari luar wilayah.

Urunan anggota setempat membiayai pembangunan, tetapi uang tersebut mungkin tetap dibelanjakan di daerah yang sama apabila program tidak berlangsung. Karena itu, model tidak menghitung seluruh belanja pembangunan sebagai tambahan ekonomi.

Sebagai contoh, uang yang semula akan dipakai membeli kebutuhan rumah tangga kemudian dialihkan untuk membeli semen. Toko bangunan memperoleh transaksi, tetapi sebagian belanja lain berkurang.

Pola gotong royong ini terlihat dalam laporan KosongSatu.ID pada 6 Oktober 2026 mengenai pembangunan rumah Nurul Ahmad di Pasuruan. Dukungan warga mencakup tenaga, material, makanan, dan kebutuhan pekerja.

Berapa banyak dana dari luar daerah?

Simulasi mengasumsikan porsi dana luar wilayah sebesar 10 persen pada skenario konservatif, 20 persen pada skenario dasar, dan 35 persen pada skenario optimis.

Menurut bahan kajian, sumbernya dapat mencakup kiriman DPP OPSHID, donasi dari luar daerah, serta penjualan merchandise Tasyakuran Sumpah Pemuda. Namun, besar kontribusi setiap sumber per rumah belum tercatat.

Bahan tersebut menyebut bantuan PT Sehat Tentrem Jaya Lestari sebesar Rp4 juta per unit. Nilainya setara sekitar 5 persen dari belanja langsung Rp80,1 juta yang digunakan dalam simulasi.

Meski demikian, tahun, edisi pembangunan, dan cakupan penerima bantuan itu belum dijelaskan. Bantuan tersebut juga belum cukup untuk membuktikan asumsi porsi dana luar sebesar 20 persen pada skenario dasar.

Sumbangan barang dan konsumsi relawan

Cara pengurus daerah menyediakan kebutuhan pembangunan ikut memengaruhi perhitungan.

Dalam bahan kajian, Ketua DPD OPSHID Jakarta Pusat, Reza, menyebut 80 persen material dibeli, 15 persen disumbangkan warga, dan 5 persen dibuat sendiri. Model memperlakukan sumbangan barang sebagai penghematan biaya, bukan transaksi baru bagi penjual lokal.

Untuk konsumsi relawan, porsi pembelian tunai diasumsikan sebesar 60, 80, dan 100 persen pada tiga skenario. Namun, pembelian yang dibiayai urunan setempat tetap diperhitungkan sebagai pengalihan belanja.

Sumbangan sayur diperlakukan netral dalam model dengan asumsi barang itu menggantikan transaksi yang sebelumnya akan berlangsung. Hasil sebenarnya bergantung pada apakah penjualan tersebut memang akan terjadi tanpa program.

Apa yang belum diketahui?

Simulasi belum memasukkan barokahan relawan karena penerapan dan besarannya berbeda antar-pengurus daerah. Dampak pengecualian itu belum dapat dihitung.

Keterbatasan utama tetap terletak pada asal dana. Kajian mengusulkan pencatatan sederhana untuk setiap rumah: berapa urunan lokal dan berapa kiriman dari luar daerah.

Tanpa pemisahan tersebut, Rp14,5 juta tetap menjadi hasil skenario. Angka itu juga tidak mewakili seluruh manfaat program, seperti nilai hunian yang diterima keluarga.***