Donald Trump mengatakan Iran hampir meninggalkan rencana membuat senjata nuklir. Gedung Putih menyebut Iran tidak memilikinya. Namun, perang yang dimulai Amerika Serikat dan Israel pada Februari masih berlangsung.
KOSONGSATU.ID — Presiden Donald Trump mengatakan Iran “hampir meninggalkan rencana” untuk memiliki senjata nuklir. Sehari setelahnya, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung menyebut Iran tidak memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu memunculkan pertanyaan: jika Iran belum memiliki bom, apa yang hendak dicegah Amerika Serikat dengan menyerangnya?
Trump menyampaikan pernyataannya pada 3 Oktober. Namun, dalam rapat umum di Nebraska dua hari kemudian, ia mengatakan Iran “tidak akan memiliki senjata nuklir” dan menyebut perang hampir selesai. Perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan masih berlangsung hingga Selasa, 6 Oktober, menurut laporan Reuters.
Washington menyebutnya perang pencegahan
Wakil Presiden JD Vance menjelaskan alasan pemerintahannya dalam wawancara dengan Reuters pada 5 Oktober yang diterbitkan sehari kemudian. Menurut Vance, tujuan utama operasi militer itu adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir dan mencegah negara lain di kawasan mengikutinya.
Vance mengatakan fasilitas pengayaan Iran telah dihancurkan dan Amerika Serikat ingin mencegah Teheran membangunnya kembali. Ia juga mempertanyakan alasan Iran memperkaya uranium hingga 60 persen jika tidak berniat membuat senjata nuklir.
Angka itu menjadi bagian dari argumen Washington. Sebelum perang terbaru, IAEA memperkirakan Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Badan tersebut belum dapat memastikan lokasi seluruh stok itu setelah inspeksi terhenti. Menurut taksiran IAEA yang dikutip Reuters, stok itu dapat menjadi bahan untuk beberapa bom jika diperkaya lebih lanjut. Namun, uranium yang diperkaya bukan berarti Iran telah memiliki senjata nuklir.
Senjata nuklir dan program nuklir
Perbedaan itu penting. IAEA menyatakan pada awal Maret bahwa badan tersebut belum melihat program terstruktur Iran untuk membuat senjata nuklir. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi juga mengatakan Iran tidak berada beberapa hari atau pekan lagi dari pembuatan bom, menurut Arms Control Association yang mengutip pernyataannya. Iran sendiri menyatakan program nuklirnya untuk kepentingan sipil.
Jadi, pernyataan Trump bahwa Iran hampir meninggalkan rencana senjata nuklir tidak sama dengan bukti bahwa seluruh risiko telah hilang. Washington mengatakan serangan ditujukan untuk mencegah Iran membangun kembali kemampuan nuklirnya. Namun, penilaian IAEA yang tersedia saat perang dimulai tidak menunjukkan adanya program terstruktur untuk membuat bom.
Pertanyaan yang tersisa adalah seberapa dekat ancaman itu dan apakah serangan militer menjadi satu-satunya cara untuk mengatasinya. Hingga Rabu, 7 Oktober, Trump mengatakan perang hampir berakhir, tetapi belum ada kesepakatan baru untuk mengakhiri konflik yang diumumkan.***
* Sumber: Reuters, Associated Press, Anadolu Agency, Arms Control Association.



Tinggalkan Balasan