Angin sore berembus pelan di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Di antara reruntuhan bata merah peninggalan Majapahit, sebuah bangunan berbentuk piramida kini ikut mengisi lanskap bekas ibu kota kerajaan itu.

KOSONGSATU.ID — Monumen tersebut diprakarsai Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia. Strukturnya dirancang agar bisa berputar, memancarkan cahaya, dan menyemburkan air mancur.

Lokasinya bukan dipilih secara kebetulan. Trowulan diyakini sebagai tempat Mahapatih Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa, janji untuk menyatukan Nusantara.

Jejak Gajah Mada di Watesumpak

Di Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, warga dan budayawan bersepakat menamai kawasan mereka “Kampung Gajah Mada”.

Rujukannya adalah Kakawin Nagarakretagama pupuh 12 bait 4 karya Mpu Prapanca, yang menyebut kediaman sang mahapatih berada di timur laut Candi Wringinlawang. Kawasan ini diyakini pernah menjadi kesatrian, markas Pasukan Bhayangkara di bawah komando Gajah Mada.

Di belakang Pendopo Agung Trowulan, sebuah batu segi enam menancap miring. Warga menyebutnya Situs Patok Gajah dan secara turun-temurun meyakini batu itu ditancapkan Gajah Mada sebagai penanda tekadnya seusai bersumpah.

Ada pula Makam Panggung, petilasan yang dipercaya menjadi tempat Gajah Mada bersemadi sebelum mengucapkan sumpah tersebut.

“Manunggalnya keimanan dan kemanusiaan”

Akar sejarah itulah yang mendasari PCTA Indonesia membangun monumennya di Trowulan. Organisasi ini sendiri dideklarasikan di Pendopo Agung Trowulan pada 21 Maret 2010.

Menurut para penggagasnya, monumen dibangun atas arahan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi, sebagai Tasyakuran Pembangunan Sumpah Jati Diri Bangsa. Piramida itu dimaknai sebagai lambang menyatunya keimanan dan kemanusiaan.

Filosofinya berangkat dari gerak. Setiap orang dituntut terus bergerak dan menanggapi kehidupan agar batinnya memancarkan cahaya, seperti monumen yang berputar dan bercahaya itu.

Pada peringatan HUT ke-14 PCTA Indonesia, 21 Maret 2024, organisasi ini meletakkan batu pertama Museum Piramid di Desa Bejijong. Ketua DPP PCTA Indonesia, I Dewa Nyoman, kala itu menyebut organisasinya telah berjuang selama 14 tahun dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan.

Bejijong, desa yang memutar waktu

Geliat Majapahit paling terasa di Desa Wisata Bejijong. Wilayah ini disebut dulu bernama Lemah Tulis, merujuk pada Prasasti Alasantan peninggalan Mpu Sindok bertarikh 939 Masehi.

Di sini berdiri Candi Brahu, yang kerap disebut candi tertua di Trowulan, bersanding dengan Petilasan Siti Inggil yang diyakini warga sebagai makam Raden Wijaya, raja pertama Majapahit.

Wisatawan bisa menginap di rumah inap bergaya rumah adat, tidur beralas tikar pandan, menyantap nasi jagung dan ayam ungkep kemaron, lalu menyeruput wedang secang dari kendi tanah liat.

Warga mewarisi keahlian metalurgi leluhur sebagai perajin cor kuningan dan perunggu. Sebagian lainnya membatik motif Surya Majapahit dengan warna alam terakota.

Di desa yang mayoritas penduduknya Muslim ini, Maha Vihara Majapahit menaungi patung Buddha Tidur berwarna emas sepanjang 22 meter. Kerukunan itu ikut mengantar Bejijong masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Apa hubungannya dengan Mesir?

Bentuk piramida mau tak mau mengundang ingatan pada Mesir Kuno. Selama berabad-abad, Piramida Agung Giza dibayangkan sebagai hasil kerja paksa para budak, gambaran yang bersumber dari sejarawan Yunani Herodotus.

Temuan arkeologis menunjukkan hal lain. Makam para pembangun piramida yang digali di dekat kompleks Giza sejak 1990 membuat arkeolog Mesir Zahi Hawass menyimpulkan mereka pekerja yang diupah, bukan budak. Alasannya, mereka dimakamkan secara terhormat di samping piramida raja.

Jumlahnya pun jauh di bawah angka 100.000 versi Herodotus. Perkiraan arkeolog berada di kisaran 20.000 pekerja, ditambah sekitar 16.000 tenaga pendukung.

Sebagian peneliti material juga berhipotesis bahwa blok-blok piramida dicetak dari campuran tanah liat, bukan dipahat utuh. Gagasan ini masih diperdebatkan, tetapi sebagian kalangan mengaitkannya dengan Surah Al-Qasas ayat 38, yang mengisahkan perintah Firaun kepada Haman untuk membakar tanah liat.

Bagi para penggagas monumen di Trowulan, bentuk piramida menyimpan pesan sederhana: dasar yang lebar melambangkan kebersamaan rakyat, puncaknya melambangkan kepemimpinan yang menyatukan.

Di Bejijong, pesan itu tidak berhenti di batu. Ia hidup di bengkel cor logam, di dapur yang menanak nasi jagung, dan di vihara yang berdiri tenang di tengah kampung Muslim.***