Laporan dugaan operasi Iran di Tanjung Priok menyebar melalui pemberitaan media Indonesia yang merujuk sumber awal sama. Mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, kini mempertanyakan dasar tudingan tersebut.
KOSONGSATU.ID — Dian menyampaikan penilaiannya dalam siniar Madilog di kanal Forum Keadilan TV, Sabtu (03/10). Ia menilai tudingan itu tidak sesuai dengan doktrin pertahanan dan jangkauan militer Iran.
“Tidak satu butir peluru pun dilontarkan ke tetangganya,” kata Dian ketika menjelaskan pandangannya mengenai doktrin pertahanan Iran. Pernyataan tersebut merupakan penilaian mantan diplomat, bukan hasil pemeriksaan aparat keamanan.
Laporan yang dipersoalkan diterbitkan Iran International pada Senin (31/08). Penulisnya, Mojtaba Pourmohsen, mengutip sumber tanpa nama mengenai dugaan rencana operasi Unit 4000, bagian dari organisasi intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Laporan itu menyebut Selat Malaka, Selat Bangka, dan Tanjung Priok sebagai lokasi yang diduga menjadi sasaran. Informasi tersebut kemudian masuk ke pemberitaan Indonesia, termasuk ulasan Sindonews pada Kamis (10/09).
Ketika Satu Laporan Dikutip Berulang
Rantai pengutipan itu memperluas jangkauan tudingan. Namun, pemberitaan yang merujuk laporan sama tidak dengan sendirinya menjadi konfirmasi terpisah atas kebenaran informasi awal.
Persoalan tersebut disoroti Ahlulbait Indonesia (ABI), organisasi yang dua tokohnya disebut dalam laporan Iran International. Dalam hak jawab bertanggal Minggu (13/09), ABI membantah keterlibatan Zahir Yahya dan Abdullah Assegaff dengan IRGC.
ABI mempersoalkan tidak diperlihatkannya dokumen, komunikasi, transaksi, atau tindakan operasional yang dapat diperiksa secara independen untuk mendukung pengaitan kedua tokohnya.
“Informasi dari sumber yang identitasnya tidak dibuka tetap memerlukan pengujian,” demikian pernyataan ABI. Organisasi itu juga menyayangkan kedua tokohnya tidak memperoleh kesempatan konfirmasi sebelum diberitakan.
Dalam konteks ini, pengutipan berulang membentuk ruang gema: tudingan yang sama muncul di berbagai pemberitaan, sementara dasar informasinya tetap bertumpu pada sumber awal. Pola tersebut belum membuktikan adanya koordinasi antarmedia ataupun operasi pengaruh asing.
Bantahan Iran Juga Perlu Dibedakan dari Bukti
Kedutaan Besar Iran di Jakarta membantah laporan tersebut melalui pernyataan yang diberitakan Sindonews pada Jumat (25/09), setelah laporan awal beredar sejak akhir Agustus.
“Konten yang diangkat dalam laporan ini tidak memiliki kebenaran, kredibilitas, transparansi, dan tidak dapat diverifikasi,” demikian pernyataan Kedubes Iran.
Kedubes menilai media Indonesia yang memuat ulang laporan itu menyimpang dari etika jurnalistik. Kedubes juga menuduh Iran International didukung dan didanai Israel, tetapi pernyataan yang dipublikasikan tidak menyertakan bukti pendanaan tersebut.
Di sisi lain, Iran International menyatakan informasi rencana operasi berasal dari sumber yang mengetahui aktivitas IRGC. Dalam laporan yang diperiksa, media itu tidak membuka identitas sumbernya.
Hingga Selasa pagi (06/10), belum ditemukan konfirmasi resmi pemerintah Indonesia yang membuktikan rencana operasi tersebut. ABI meminta media memberikan hak jawab secara proporsional dan melakukan koreksi apabila informasi terbukti keliru.***




Tinggalkan Balasan