Revitalisasi Museum Majapahit di Trowulan, Mojokerto senilai Rp 146 miliar resmi dimulai. Menteri Kebudayaan Fadli Zon targetkan kawasan ini menjadi pusat ekonomi budaya bertaraf internasional layaknya Versailles dengan konsep site museum.
KOSONGSATU.ID – Sisa-sisa kebesaran imperium Nusantara yang tertidur di tanah Trowulan kini bersiap untuk kembali dibangunkan. Susunan bata merah kuno yang menjadi saksi bisu kejayaan Majapahit di masa silam, tidak lama lagi akan dirajut kembali dalam sebuah wadah peradaban yang lebih megah dan holistik.
Ahad (13/9/2026), tonggak sejarah baru itu resmi dipancangkan di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Prosesi peletakan batu pertama oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, bersama Bupati Mojokerto Muhammad Al-Barra dan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, menandai dimulainya megaproyek revitalisasi Museum Majapahit yang didanai APBN sebesar Rp 146 miliar.
Proyek yang digarap oleh KSO PP-Penta ini bukan sekadar memugar bangunan fisik, melainkan sebuah ikhtiar menghidupkan kembali roh kebudayaan yang pernah memancarkan sinarnya hingga ke seberang lautan.
Menuju “Museum Agung” dan Pusat Ekonomi Budaya
Bagi Menteri Kebudayaan, kehadiran museum ini pantang sekadar menjadi etalase benda mati atau gudang penyimpanan artefak usang. Ke depan, kawasan pelestarian sejarah ini direncanakan akan membawa nama yang lebih merepresentasikan kebesarannya, yakni “Museum Agung Majapahit”.
Lebih dari itu, Museum Majapahit diproyeksikan sebagai pusat ekosistem ekonomi budaya yang berkelanjutan dan sirkular. Fadli Zon menaruh harapan besar agar museum ini kelak menjadi magnet pariwisata bertaraf internasional yang mampu mendatangkan devisa negara secara signifikan, tidak kalah dari museum-museum bersejarah di Eropa.
”Di Prancis itu kalau kita lihat semua museum mendapatkan penghasilan yang luar biasa banyaknya. Saya sering mencontohkan, karena saya dengar langsung dari Direktur Utamanya Museum Versailes itu pengunjungnya sehari 30.000 orang. Memang mahal di sana kalau mau ke museum, 65 EUR. Jadi, museum itu bisa jadi sumber devisa, sumber pendapatan,” tegas Fadli Zon di sela-sela peresmian.
Merajut Narasi Melalui Desain “Surya Majapahit”
Transformasi luhur ini akan berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektar, memadukan 5,4 hektar lahan eksisting dan 4,8 hektar lahan baru. Wajah baru museum ini lahir dari kajian dampak cagar budaya yang mendalam dan sayembara arsitektur yang dimenangkan oleh Thoat Fauzi.
Mengusung konsep luhur “Surya Majapahit”, desain arsitektur museum diejawantahkan ke dalam empat kuadran naratif yang sarat makna. Kuadran pertama, Sunset of Majapahit, melukiskan fondasi peradabannya; disusul kuadran Menuju Majapahit yang merangkum proses kembang tumbuh imperium tersebut. Kemudian ada Pusaka Majapahit yang menyoroti warisan budaya, dan ditutup dengan Sunrise of Majapahit sebagai simbolisasi inspirasi Majapahit untuk masa depan bangsa.
Kekayaan arsitektur tersebut akan tersebar di 32 bangunan berbalut material bata merah, yang menyelaraskan diri dengan rupa struktur lingkungan budaya Majapahit klasik. Bangunan-bangunan ini akan menampung ruang pamer, ruang imersif, area penyimpanan koleksi, hingga ruang pertemuan.
Museum Situs yang Menjaga Keaslian Artefak
Saat ini, sekitar 88.000 item koleksi dan artefak peninggalan Majapahit tengah menanti rumah barunya yang lebih bermartabat. Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa Museum Majapahit akan berevolusi menjadi site museum (museum situs) yang mengawinkan secara harmonis koleksi artefak, lanskap, dan narasi kesejarahan.
Konsep site museum ini diperkuat oleh temuan-temuan ekskavasi terbaru. Menanggapi adanya temuan struktur kuno selama proses pengerjaan, Fadli Zon juga telah memastikan bahwa temuan tersebut tidak akan menghentikan proyek, melainkan justru diintegrasikan menjadi bagian tak terpisahkan dari museum itu sendiri.
”Kita telah melakukan ekskavasi arkeologis pada tahun 2025 dan pada tahun 2026 sebanyak 50 titik. Dari hasil ekskavasi tersebut, terdapat temuan dari 5 kotak gali yang direncanakan untuk dipresentasikan secara in situ,” papar Restu Gunawan.
Dengan menyuguhkan peninggalan tepat di titik asalnya (in situ), museum ini akan menjadi oase pengetahuan otentik bagi para peziarah sejarah. Pembangunan fisik mahakarya ini ditargetkan rampung pada 2026, yang akan disusul dengan penataan tata pameran pada tahun 2027. Kelak, kala “Surya Majapahit” kembali terbit seutuhnya di Trowulan, ia niscaya akan memancarkan kebanggaan peradaban bagi generasi masa depan.***





Tinggalkan Balasan