Jauh sebelum letusan 1883, seorang resi Sunda Kuno bernama Bujangga Manik telah mencatat keberadaan “Pulo Rakata” di Selat Sunda. Inilah jejak awal nama Krakatau yang ternyata menyimpan kedekatan etimologis dengan biota laut berupa kepiting.

Deru ombak Selat Sunda memecah kesunyian saat perahu yang ditumpangi Bujangga Manik melintasi perairan itu pada akhir abad ke-15.

Di cakrawala, pandangan sang resi dari keraton Pakuan Pajajaran ini tertuju pada sebuah daratan vulkanik yang menjulang angkuh, yang kemudian ia abadikan dalam guratan daun nipah sebagai “Pulo Rakata, gunung ti tengah sagara.”

​Kesunyian Resi di Jalur Niaga

Bujangga Manik, atau yang memiliki nama asli Prabu Jaya Pakuan, bukanlah penjelajah biasa. Menanggalkan gemerlap keraton Kerajaan Sunda, ia memilih jalan sunyi sebagai seorang resi Hindu.

Dalam dua kali perjalanannya mengelilingi Jawa hingga Bali, ia tak hanya mencari kedamaian spiritual, namun tanpa sengaja mendokumentasikan topografi Nusantara dengan sangat detail.

Lebih dari empat abad sebelum bangsa Eropa memetakan Nusantara secara presisi, naskah Bujangga Manik telah menjadi “peta literasi” yang luar biasa bagi sejarah geografi kita.

​Gunung di Tengah Sagara

Salah satu catatan paling bersejarah dari 29 lembar naskah nipahnya—yang kini tersimpan rapi di Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris—adalah kesaksiannya tentang Krakatau.

Saat menyeberangi perairan barat Jawa menuju Sumatra atau saat menyusuri pesisir Ujung Kulon, ia menatap gunung api purba tersebut dan menamainya Pulo Rakata.

Menurut J. Noorduyn, seorang ahli bahasa dari Belanda yang meneliti naskah ini, catatan tersebut adalah salah satu penyebutan paling awal dan autentik tentang identitas geografis sang raksasa Selat Sunda, jauh sebelum peta Lucas Janszoon Waghenaer tahun 1611 menamainya Pulo Carcata.

​Filosofi ‘Kepiting’ Sang Raksasa

Lantas, dari manakah asal mula kata Rakata? Penelusuran etimologis membawa kita pada akar bahasa Sanskerta. Kata karka atau karkaṭa memiliki arti lobster atau kepiting.

Dalam bahasa Jawa Kuno, bentuk singkatan rakaṭa memiliki makna yang sama persis. Hal ini sangat masuk akal mengingat topografi pulau-pulau tersebut kala itu, atau kekayaan biota laut pesisirnya, yang lekat dengan habitat kepiting.

Sang resi, dengan kepekaan kulturalnya, menggunakan bahasa lokal serapan Sanskerta untuk menamai fenomena alam dahsyat di hadapannya.

​Gema Masa Lalu untuk Masa Depan

Kini, ratusan tahun setelah Bujangga Manik melintas, Pulo Rakata yang ia saksikan telah luluh lantak oleh letusan kolosal pada Agustus 1883. Letusan itu menyisakan kaldera dalam dan memicu kelahiran Anak Krakatau pada 1927.

Naskah kuno yang sempat terabaikan di daratan Eropa sejak 1627 itu akhirnya kembali menjadi rujukan penting. Ia menjadi bukti tak terbantahkan bahwa masyarakat Nusantara telah memiliki kesadaran dokumentasi geologis dan literasi yang sangat maju di masanya.

Kisah pelayaran Bujangga Manik dan pertemuannya dengan Pulo Rakata adalah pengingat manis bahwa alam selalu memiliki pencatatnya sendiri di setiap zaman.

Lewat guratan daun nipah yang rapuh, sang resi berhasil mewariskan ingatan tentang gunung api purba tersebut. Krakatau boleh saja meledak, hancur, dan bersalin rupa, namun identitas aslinya akan terus abadi dalam bait-bait sastra peninggalan leluhur kita.***

Daftar Rujukan:

  • Misri, Zainal Mustofa. (2025). “Rentetan Peristiwa Letusan Krakatau: 415 Masehi, Pra-1883 hingga 2025”. Kompasiana.
  • Noorduyn, J. (1982). “Bujangga Manik’s Journeys through Java; Topographical Data from an Old Sundanese Source”. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, 138(4), 413–442.
  • Riyadi, Agung. (2026). “Krakatau atau Krakatoa: Jejak Etimologi dan Misteri Nama Sang Raksasa Selat Sunda”. AFU.ID.
  • Sofian, Harry. (2023). “Bujangga Manik, Penjelajah dari Masa Sunda Kuno”. Warung Sains Teknologi.
  • Sumargo, Setya Krisna. (2019). “Diangkut Ke Inggris Sejak 1627, Naskah Kuna Bujangga Manik Ditemukan 340 Tahun Kemudian”. TribunJogja.com.