​Penemuan 63 sumur kuno di Trowulan, Mojokerto, mengungkap jejak akses air bersih penduduk Majapahit. BRIN menduga tata kota ini kelanjutan dari era Singhasari.

KOSONGSATU.ID – ​Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yusmaini Aryawati, mengungkapkan penemuan 63 sumur kuno di kawasan Nglinguk Wetan, Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Temuan di salah satu area Kota Majapahit ini membuktikan adanya sistem akses air bersih bagi penduduk pada masa tersebut.

​”Data arkeologi menunjukkan adanya pola permukiman setingkat kota yang terbagi dalam sejumlah klaster, seperti Sentonorejo, Segaran, Pendopo Agung, Nglinguk, Grogol, Pakis, dan Puri,” kata Yusmaini dalam paparan risetnya yang dikutip pada Kamis, 23 Juli.

​Luas wilayah metropolitan Majapahit di Trowulan diperkirakan mencapai 100 kilometer persegi, melingkupi beberapa desa dan kecamatan. Menurut Yusmaini, kawasan Trowulan sejatinya telah dihuni sejak abad ke-10 Masehi atau pada era Kerajaan Mataram Kuno, jauh sebelum Majapahit berdiri.

​Peneliti PRAPS BRIN lainnya, Sugeng Riyanto, menduga karakter permukiman di Trowulan merupakan kelanjutan dari era Kerajaan Singhasari. Hipotesis ini didasarkan pada garis keturunan Wangsa Rajasa yang menaungi kedua kerajaan tersebut, bermula sejak Ken Arok menaklukkan Kediri pada 1222 Masehi.

​Kawasan Elite dan Fasilitas Air

​Selain area permukiman umum, peneliti mengidentifikasi Sentonorejo sebagai kawasan elite tempat tinggal para raja dan bangsawan. Kawasan ini dilengkapi dengan Pamerajan Agung, sebuah area sakral menyerupai pura yang menjadi fasilitas khusus istana Majapahit yang bercorak Hindu-Buddha.

​Ihwal temuan di Nglinguk Wetan, puluhan sumur kuno yang ditemukan memiliki rancang teknologi, bentuk, serta ukuran yang bervariasi. Meski data arkeologi yang dikumpulkan sejak era 1990-an sudah berlimpah, sistem pengelolaan air secara utuh dan jaringan jalan peninggalan Majapahit di Trowulan masih menyimpan banyak misteri.

​Sinergi Riset Multidisiplin

​Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Hery Jogaswara, menyatakan lembaganya terus berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan untuk mendukung kelanjutan ekskavasi di Trowulan. Selain itu, BRIN juga tengah menyiapkan program penelitian jangka panjang di Situs Liyangan, Jawa Tengah, guna memperluas pemahaman masyarakat akan warisan budaya.