Bukan klenik. Bukan takhayul. Puasa mutih 40 hari leluhur Jawa ternyata memicu proses seluler yang sama dengan yang diganjar Nobel.


KOSONGSATU.ID — Sebelum ada kata biohacking, sebelum intermittent fasting masuk daftar tren Silicon Valley, leluhur Jawa sudah menjalankannya—dengan sebutan tirakat dan durasi yang lebih menantang: 40 hari.

Puasa mutih adalah laku prihatin dalam tradisi Kejawen yang membatasi konsumsi hanya pada nasi putih dan air putih murni—tanpa garam, tanpa gula, tanpa bumbu apa pun. Selama puluhan hari, tubuh dikondisikan dalam satu tatanan makan yang paling sederhana yang mungkin.

Pertanyaan yang selama ini terlalu mudah diabaikan: apakah ada alasan biologis di balik laku ini?

Sel yang Mulai Memakan Dirinya Sendiri—dan Itu Hal yang Baik

Ketika tubuh mengalami defisit asupan kalori secara signifikan, terjadi sebuah proses yang dinamai autofagi (autophagy)—dari bahasa Yunani: auto (diri) dan phagein (memakan). Sel-sel sehat secara aktif mendaur ulang komponen internal yang rusak: organel yang tidak berfungsi, protein yang sudah usang, hingga patogen yang menyusup.

Ini bukan kerusakan. Ini adalah pembaruan. Bagherniya et al. (2018) dalam Ageing Research Reviews menegaskan bahwa puasa dan pembatasan kalori merupakan pemicu autofagi non-genetik paling kuat yang dikenal sains.

Terobosan mekanisme ini begitu revolusioner hingga mengantarkan Yoshinori Ohsumi meraih Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2016—atas penemuan mekanisme dasar yang mengatur proses “pembersihan diri seluler” ini.

Yang Perlu Dicatat: Autofagi Bukan Hanya Berkah

Shabkhizan et al. (2023) dalam Advances in Nutrition mengingatkan bahwa respons autofagi bersifat ganda. Aktivasi jangka pendek bermanfaat; stimulasi berlebihan atau kronis tanpa pemulihan gizi yang memadai justru dapat memicu kerusakan sel.

Puasa mutih 40 hari tanpa pendampingan profesional membawa risiko nyata: defisit protein yang dapat mengikis massa otot, serta kekurangan zat besi dan vitamin esensial yang berisiko mengarah pada anemia. Leluhur yang menjalani tirakat ini tidak melakukannya sembarangan—mereka didampingi guru spiritual yang juga berfungsi sebagai penjaga kondisi fisik.

Otak yang Diam-Diam Merombak Dirinya

Dampak pembatasan kalori tidak berhenti di tingkat sel. Puasa berkepanjangan diketahui meningkatkan kadar BDNF (brain-derived neurotrophic factor)—protein yang berperan sentral dalam neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk ulang koneksi sarafnya.

Mayor (2023) dalam Frontiers in Aging merangkum bahwa puasa intermiten dan pembatasan kalori terbukti mendukung neuroproteksi, plastisitas sinapsis, dan bahkan pertumbuhan neuron baru di hipokampus—pusat memori dan pembelajaran.

Para pelaku tirakat kerap melaporkan kejernihan berpikir yang tidak biasa di tengah laku. Sains kini mulai memberi penjelasannya.

Warisan Empiris, Bukan Takhayul

Leluhur Nusantara tidak memiliki akses ke jurnal ilmiah. Yang mereka miliki adalah observasi jangka panjang terhadap ritme tubuh dan alam—dan mereka merumuskannya dalam bentuk laku yang kita warisi hingga hari ini.

Mengadopsi prinsip di balik tirakat—pembatasan kalori terstruktur, keheningan, dan pengendalian diri—tidak membutuhkan 40 hari penuh atau keyakinan mistis tertentu. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa tubuh, jika diberi ruang untuk beristirahat dari kelimpahan, tahu persis cara memperbarui dirinya sendiri.

Jika Anda penasaran lebih jauh tentang dasar sains di balik praktik ini, telaah riset Bagherniya et al. dan Shabkhizan et al. di PubMed adalah titik awal yang solid. Eling lan waspada—sadar dan waspada—bukan hanya filosofi Jawa. Itu juga prinsip sains yang baik. ***


​Daftar Pustaka

  • ​Ariyanti, M. (2019). Konsep Tirakat Puasa Kejawen bagi Penghayat Kepercayaan Kejawen.
  • Tirakat, Perspektif Meditasi Jawa. Borobudur Writers & Cultural Forum.
  • Tirakat Adalah: Pengertian, Tujuan, dan Pelaksanaannya. Gramedia.
  • ​Tradisi Tirakat dalam Kehidupan Modern. NetralNews.
  • Puasa dalam Tradisi Jawa. PanturaNews.
  • Bagherniya, M. et al. (2018). The effect of fasting or calorie restriction on autophagy induction.
  • Shabkhizan, R. et al. (2023). The Beneficial and Adverse Effects of Autophagic Response.
  • Rahman, M.S., & Islam, M.R. (2019). Role of Intermittent Fasting and Autophagy in Healthy Aging.