​Ekonom Yanuar Rizky menilai konflik AS dan Iran bukan cuma urusan geopolitik, melainkan siasat menjaga volatilitas harga minyak.


KOSONGSATU. ID – ​Serangan Amerika Serikat terhadap Iran kembali menyita perhatian publik. Banyak pihak mengaitkan ketegangan ini murni dengan isu nuklir atau rivalitas geopolitik semata.

Namun, kacamata ekonomi melihat dimensi yang berbeda. Konflik tersebut ternyata sarat dengan kepentingan finansial, terutama upaya AS menjaga stabilitas harga energi dan memainkan volatilitas pasar global.

​Kepentingan Sektor Migas dan Hegemoni Politik AS

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, membedah motif tersembunyi di balik eskalasi ini. Melalui podcast “To The Point Aja” di kanal Youtube Sindonews pada Jumat (24/4/2026), Yanuar menegaskan bahwa Presiden AS Donald Trump sejak awal memang berambisi mempertahankan harga minyak tetap tinggi.

​”Trump pro terhadap harga energi naik. Hal ini sudah terlihat sejak pertama kali dia masuk ke gelanggang politik pada Konvensi Partai Republik tahun 2013 hingga 2014,” ungkap Yanuar.

​Langkah AS menopang harga energi bukan tanpa alasan. Strategi ini secara langsung memulihkan kekuatan sektor migas domestik mereka sekaligus memuaskan ekspektasi para penyokong politik, terutama dari kalangan industri energi dan hedge fund (perusahaan pengelola dana lindung nilai).

​Konflik sebagai Instrumen Spekulasi Finansial

Lebih lanjut, Yanuar menyoroti anomali yang terjadi di pasar komoditas global. Lonjakan harga minyak yang sempat menyentuh level 120 dolar AS per barel ternyata bukan akibat tingginya permintaan riil pasar. Ada permainan spekulasi skala besar yang sengaja mendongkrak harga.

​Yanuar merujuk pada data otoritas pengawas bursa komoditas AS yang mencatat rekor mencengangkan. “Terjadi peningkatan 8.000 kali kontrak yang dilakukan oleh hedge fund,” jelasnya.

Fakta ini membuktikan bahwa para pemain finansial menjadikan konflik Iran sebagai instrumen untuk menggiring sentimen pasar demi meraup keuntungan.

​Oleh karena itu, Yanuar meyakini AS sengaja memelihara konflik ini agar tidak meledak menjadi perang berskala penuh. AS lebih membutuhkan gejolak harga yang terkendali daripada kehancuran total akibat perang besar. “Perang ini dipelihara dari sudut pandang volatilitas. Bukan perang yang besar,” tegasnya.

Ancaman blokade dan drama geopolitik menjelma menjadi skenario yang saling terkait untuk menjaga fluktuasi harga minyak.

​Batas Toleransi dan Rentang Harga Ideal

Meski terus memainkan sentimen pasar, AS tetap memiliki batasan yang tegas. Yanuar menilai Washington tidak akan membiarkan harga minyak meroket tanpa kendali karena berpotensi menjadi bumerang bagi ekonomi domestiknya sendiri.

​Tingginya harga energi memicu inflasi yang bisa melumpuhkan daya beli masyarakat AS. “Amerika Serikat tidak mungkin membiarkan inflasinya berada di atas 4,5 persen. Artinya, harga minyak mustahil dibiarkan bertahan di level 120 dolar,” kata Yanuar.

​Ia memprediksi AS akan terus merekayasa agar harga minyak berada pada rentang psikologis 80 hingga 100 dolar AS per barel. Rentang ini cukup aman untuk mengamankan keuntungan industri energi tanpa memukul ekonomi makro Amerika.

“Berdasarkan analisa saya, harga minyak tidak mungkin menetap di atas 100 dolar. Itulah mengapa setiap kali harga melewati batas itu, mereka selalu menekannya turun kembali,” pungkasnya.

Pada akhirnya, panggung geopolitik Timur Tengah saat ini tak sekadar pertunjukan unjuk kekuatan militer. Di balik dentuman senjata dan ancaman eskalasi, bersembunyi kalkulasi ekonomi presisi yang dirancang untuk mengamankan keuntungan kelompok finansial tertentu sekaligus menjaga hegemoni ekonomi Amerika Serikat di tingkat global.***