Peringatan Hari Santri tidak sepatutnya sebatas seremoni. Budayawan Cak Nun mengingatkan santri merupakan benteng kultural dan wujud manusia merdeka bagi peradaban bangsa.
KOSONGSATU.ID — Peringatan Hari Santri Nasional yang dirayakan bangsa ini setiap tanggal 22 Oktober kerap terjebak pada gegap gempita seremoni. Pertanyaan mengenai esensi sejati dari seorang santri justru sering kali luput dari perenungan.
Budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun memberikan pandangan jernih terkait hal ini pada Rabu (21/10/2026). Menurutnya, santri melampaui sekadar identitas pakaian maupun latar belakang institusi pendidikan semata.
Melalui kacamatanya, kaum bersarung ini merupakan sebuah etos, benteng kultural, sekaligus manifestasi dari manusia yang merdeka di tengah pusaran zaman.
Akar Sejarah dan Identitas Otentik
Cak Nun pernah membedakan secara filosofis konsep santri dan pelajar. Ia menegaskan bahwa santri lahir dari rahim sejarah panjang bangsa. Sementara itu, konsep pelajar hadir dari sistem modernitas luar.
Pandangan ini bertujuan mengajak masyarakat melacak akar identitas otentik. Seorang santri membawa DNA kultural kuat sebagai pencari cahaya yang sengaja mendatangi kiai untuk menyerap ilmu dan adab.
Kesadaran akan identitas asli inilah yang membuat santri senantiasa memiliki pijakan kokoh. Mereka mampu bertahan dan tidak kehilangan arah di tengah arus zaman yang serba cepat.
Benteng Kultural dan Manusia Merdeka
Dalam lanskap berbangsa, Cak Nun menyandingkan peran santri layaknya tentara. Jika tentara menjaga kedaulatan fisik, santri berdiri tegak sebagai kekuatan kultural yang menjaga benteng moral masyarakat.
Kekuatan tersebut bersumber dari kemerdekaan jiwa. Cak Nun mengajarkan bahwa manusia merdeka adalah mereka yang mampu mengendalikan diri sendiri, tidak tunduk pada hawa nafsu, dan tidak menghamba materi.
Kemerdekaan jiwa memampukan santri merawat kewarasan, menundukkan ego pribadi, dan menebarkan kasih sayang. Mereka menjadi penengah di tengah masyarakat yang rentan terbelah fanatisme sempit.
Etos Peradaban Melampaui Sekat
Hari Santri sepatutnya dimaknai lebih luas dan tidak eksklusif. Ruh utama kehidupan pesantren bertumpu pada kesungguhan serta upaya saling menyelamatkan melalui kedisiplinan dan keikhlasan.
Cak Nun kerap mengingatkan bahwa ilmu tanpa adab adalah bencana. Semangat Resolusi Jihad di masa kini menjelma menjadi jihad melawan kebodohan, praktik korupsi, dan dehumanisasi.
Tantangan Masa Depan dan Keadilan
Di balik kekayaan nilai tersebut, eksistensi santri masih dihadapkan pada tantangan nyata. Lulusan pesantren sering dipandang sebelah mata dalam bursa kerja formal jika dibandingkan dengan pendidikan umum.
Situasi ini menuntut hadirnya rancang bangun nasional. Ruang strategis harus terbuka lebar bagi kaum santri agar mereka berdaya guna dalam pembangunan, menjembatani kebutuhan spiritual dan material bangsa.
Memperingati Hari Santri pada akhirnya adalah merayakan kesadaran atas cadangan moral di pesantren. Sesuai pesan Cak Nun, bangsa ini membutuhkan manusia yang berpikir jernih demi peradaban yang bermartabat.***




Tinggalkan Balasan