OPSHID menyatakan bantuan Rumah Syukur terbuka bagi masyarakat yang membutuhkan, tanpa membedakan agama. Namun, angka penerima dari warga Shiddiqiyyah masih bersandar pada keterangan pengurus pada 2023.

KOSONGSATU.ID – Sekretaris DPP Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID), Mulyono, menyebut hanya lima persen penerima Rumah Syukur berasal dari warga Shiddiqiyyah.

“Rumah Syukur ini untuk seluruh masyarakat Indonesia yang memang membutuhkan, tidak hanya Shiddiqiyyah,” katanya kepada ANTARA Jawa Timur dalam laporan yang terbit pada 2 November 2023.

Pada tahun itu, OPSHID membangun 66 rumah. Peletakan batu pertama dilakukan serentak pada 17 September 2023, dan sebagian besar rumah disebut selesai dalam waktu kurang dari 40 hari.

Angka lima persen merupakan keterangan pengurus. Laporan tersebut belum menyertakan rincian jumlah penerima berdasarkan keanggotaan yang memungkinkan persentasenya diperiksa.

Dalam tanya jawab dengan Opshidmedia pada 21 Oktober 2023, pengurus DPP OPSHID bidang Sosial Kemanusiaan, Aria Rahman, mengatakan rumah tersebar di 57 kota atau kabupaten di 13 provinsi.

Menurut Aria, agama tidak menjadi pertimbangan dalam pemberian bantuan. Katalog OPSHID juga menyebut program berjalan tanpa membedakan suku, ras, agama, dan golongan.

Siapa saja yang menerima bantuan?

Salah satu contoh penerima lintas keyakinan adalah U’it, perempuan lanjut usia dari suku Tengger yang tinggal di Dusun Pojok, Desa Pandan Sari, Kecamatan Sumber, Probolinggo.

Opshidmedia pada 7 Oktober 2024 menyebut U’it beragama Hindu. Sebelum mendapat bantuan, keluarganya tinggal di rumah kayu berukuran empat kali enam meter dengan bagian-bagian yang berlubang.

Putranya, Sudarsono, bekerja sebagai penjual bakso keliling dan menjadi tulang punggung keluarga. Anak U’it lainnya, Sudarmini, mengungkapkan rasa syukur menggunakan istilah dalam keyakinannya, “astungkara”.

Di Semarang, TIMES Indonesia pada 28 Oktober 2023 melaporkan Angelika Wulandari mendapat rumah setelah sebelumnya menumpang di rumah bibinya. Artikel itu menyebut sebagian penerima program menganut agama lain, tetapi tidak menjelaskan agama Angelika.

Sementara itu, Bangsaonline pada 1 Oktober 2024 memberitakan bantuan untuk Kasmi, janda berusia 70 tahun di Ngawi. Ia berjualan pentol atau cilok dan tinggal di rumah yang tidak layak huni. Laporan tersebut tidak menyebut agama maupun keanggotaannya dalam Shiddiqiyyah.

Bagaimana dengan penerima pada 2026?

Opshidmedia pada 5 Oktober 2026 melaporkan tiga penerima di Kecamatan Pujon, Malang Raya, bukan anggota Shiddiqiyyah. Mereka adalah Sunarseh, Achmad Subechi, dan Sunariyah.

Ketiganya memiliki keterbatasan ekonomi. Sunarseh tinggal bersama putranya yang bekerja sebagai kuli panggul, Subechi juga bekerja sebagai kuli panggul, sedangkan Sunariyah menjadi asisten rumah tangga.

Program ini juga menjangkau penerima dari lingkungan Shiddiqiyyah. Opshidmedia pada 4 Oktober 2026 menyebut Ludzfi Aziz, alumnus Pesantren Majma’al Bachroin Shiddiqiyyah di Bekasi, menerima bantuan. Pengabdiannya dalam kegiatan baca tulis Al-Qur’an disebut sebagai salah satu pertimbangan kelayakan.

Untuk edisi HUT Kemerdekaan Bangsa Indonesia 2025, Warta Desa mencatat kriteria penerima meliputi janda lanjut usia, yatim piatu, dhuafa, serta veteran atau keluarga pejuang yang belum memiliki hunian layak.

Laporan-laporan tersebut menunjukkan keragaman penerima, tetapi belum memberikan gambaran menyeluruh tentang komposisinya. Angka lima persen yang disampaikan Mulyono berasal dari 2023 dan belum dapat digunakan untuk menggambarkan edisi 2024 hingga 2026.***