Laporan tentang intelijen Iran yang mengincar Pelabuhan Tanjung Priok memicu tanda tanya. Seberapa kuat dasar klaim itu, dan siapa yang mengembuskannya?

KOSONGSATU.ID – Sebuah laporan dari London pada akhir Agustus 2026 menyebut Unit 4000, sayap operasi khusus intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menyiapkan operasi maritim rahasia yang menyasar Pelabuhan Tanjung Priok. Klaim itu cepat menyebar lewat kutipan media nasional, tetapi hampir seluruhnya bersandar pada sumber yang identitasnya dirahasiakan.

Kedutaan Besar Iran di Jakarta membantahnya. Sejumlah pengamat, termasuk mantan Duta Besar RI untuk Iran, juga meragukan laporan itu dan menduga ada kepentingan geopolitik di baliknya.

Apa isi laporan itu?

Laporan tersebut diterbitkan Iran International, kanal berita berbahasa Persia yang bermarkas di London, pada 31 Agustus 2026. Media itu menyebut IRGC merekrut operator non-Iran untuk menyerang jalur pelayaran di Asia Timur.

Tanjung Priok disebut masuk daftar sasaran bersama Pelabuhan Shanghai dan Ningbo-Zhoushan di China. Laporan yang sama juga mengklaim Unit 4000 merencanakan operasi di Selat Malaka dan Selat Bangka, serta telah merekrut tiga warga Indonesia.

Siapa di balik Iran International?

Iran International mulai mengudara pada 2017. Kanal ini pernah diperiksa regulator penyiaran Inggris, Ofcom, yang pada 2019 memutuskan tidak ada aturan yang dilanggar.

Namun, kondisi keuangannya ikut disorot. Menurut laporan Financial Times, induk perusahaan Iran International merugi lebih dari 410 juta pound sterling (sekitar Rp9,7 triliun) dalam lima tahun. Utang perusahaan senilai USD870 juta (sekitar Rp15,6 triliun) kemudian dikonversi menjadi saham, sementara identitas pemodal utamanya tidak dibuka.

Mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, menyebut Iran International sebagai media oposisi yang dibiayai Amerika Serikat dan Arab Saudi. Menurut dia, klaim soal pendanaan itu bisa ditelusuri lewat dokumen keuangan perusahaan.

Apa kata pihak yang disebut?

Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyebut laporan itu tidak berdasar dan mustahil diverifikasi publik.

Ahlulbait Indonesia (ABI) juga menyampaikan hak jawab. Organisasi itu menegaskan Ketua Umum Ustaz Zahir Yahya dan anggota Dewan Syura Ustaz Abdullah Assegaff tidak memiliki keterkaitan dengan IRGC maupun Unit 4000.

Dian Wirengjurit turut meragukan kemampuan Iran untuk menggelar operasi semacam itu. Ia menilai kekuatan laut Teheran selama ini berfokus menjaga kawasan Teluk Persia dan Laut Kaspia.

Mengapa Selat Malaka?

Pakar politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi, menilai skenario Iran menyerang Tanjung Priok bertentangan dengan logika diplomatik. Menurut dia, Indonesia adalah negara sahabat, bukan musuh Iran.

Yon juga menyoroti Selat Malaka sebagai jalur pelayaran internasional yang turut memuat kepentingan Amerika Serikat. Ia menilai menjadikan perairan itu medan tempur baru, setelah Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, jauh dari strategi Teheran.

Ia justru membaca kemungkinan sebaliknya. Menurut Yon, Amerika Serikat-lah yang berkepentingan memakai isu keamanan Selat Malaka untuk membatasi ruang gerak navigasi Iran dan sekutunya.

Apa dampaknya bagi Indonesia?

Yon menduga isu ini merupakan skenario adu domba. Tujuannya menjauhkan Jakarta dari Teheran, lalu menarik Indonesia lebih dekat ke Amerika Serikat dan Israel di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.

Menurut dia, narasi ancaman semacam itu berpotensi memecah kohesi publik di dalam negeri. Bila persepsi “ancaman Iran” menguat, dukungan masyarakat terhadap Iran, dan secara tidak langsung terhadap Palestina, bisa terkikis.

Iran dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik sejak 1950. Dalam beberapa tahun terakhir, kapal perang Iran beberapa kali bersandar di Tanjung Priok dalam kunjungan resmi, termasuk pada November 2022, ketika kedua angkatan laut menyebut kunjungan itu sebagai bagian dari misi menjaga stabilitas kawasan.***