Menteri Pertanian menyebut abu vulkanik menyuburkan tanah. Ilmuwan tanah membalas: manfaat itu baru muncul setelah puluhan hingga ratusan tahun. Di antara keduanya, gudang beras negara menipis dan harga di pasar terus menanjak.

KOSONGSATU.ID – Ditanya wartawan soal sawah yang tertutup abu Anak Krakatau, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjawab pendek pada Senin siang, 7 September 2026.

“Belum, belum ada laporan. Tapi saya kira itu biasanya bisa menyuburkan tanah,” katanya, sebagaimana dikutip Republika. Ia menutup jawabannya dengan harapan: “moga-moga tidak merusak.”

Sehari sebelumnya, seorang guru besar ilmu tanah menerangkan hal yang persis berlawanan.

“Abu merupakan material geologi baru yang masih harus mengalami serangkaian proses,” kata Prof. Dian Fiantis dari Universitas Andalas. Material itu memang bakal menjadi tanah subur — setelah puluhan sampai ratusan tahun pelapukan.

Dua kalimat itu memakai kata yang sama, “menyuburkan”, dengan kerangka waktu yang berselisih beberapa abad. Petani yang sawahnya tertutup abu pekan ini menanggung selisih tersebut sendirian.

Belum Ada Laporan, Belum Ada Hitungan

Ketiadaan laporan bukan bukti ketiadaan kerusakan. Ia lebih sering menandakan sistem pendataan yang belum bergerak.

BNPB mencatat 15 kecamatan terdampak di Lampung Selatan, Pandeglang, dan Tanggamus — kawasan yang menopang produksi padi dan hortikultura Lampung serta Banten selatan. Abu bahkan terpantau menjangkau Bandung, sekitar 260 kilometer dari sumbernya.

Tanaman berdaun lebar paling rentan, karena permukaannya menahan abu dan menghambat fotosintesis. Di Metro, Lampung, petani justru diminta mempercepat panen sebelum abu berikutnya berjatuhan.

Kementerian Pertanian belum menerbitkan angka luas lahan terpapar. Padahal jaring pengaman finansialnya sudah bisa dihitung sejak awal tahun.

Asuransi Usaha Tani Padi 2026 dialokasikan untuk 100.000 hektare. BPS mencatat luas panen padi Januari–April 2026 saja mencapai 4,51 juta hektare, menanjak 0,43 persen dari 4,49 juta hektare pada periode yang sama 2025.

Artinya, tameng itu menutupi sekitar 2,2 persen sawah — dan itu pun dihitung terhadap sepertiga tahun. Ketika abu turun, mayoritas petani berdiri tanpa polis.

Gudang Penuh, Harga Menanjak

Di sisi hilir, pemerintah justru menyodorkan angka yang terdengar melegakan.

Cadangan Beras Pemerintah di gudang Bulog tercatat 4,9 juta ton per 5 September 2026. Bulog menggelar operasi pasar serentak dengan pasokan 110.000 ton per bulan — 75.000 ton premium dan 35.000 ton medium.

“Kita antisipasi bukan hanya complaint, tapi inflasi naik,” ujar Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal. Sampai 5 September 2026, beras stabilisasi yang tersalurkan mencapai sekitar 756.000 ton.

Namun cadangan itu sedang menyusut. Bulog melaporkan stok 5,4 juta ton pada Juli 2026, lalu 5,25 juta ton pada 10 Agustus, dan 4,9 juta ton pada awal September — menurun sekitar 500.000 ton dalam dua bulan.

Harga di pasar bergerak berlawanan arah dengan gudang. Panel Harga Pangan mencatat, pada 4 September 2026, beras kualitas super I dihargai Rp17.850 per kilogram dan medium II Rp16.350 per kilogram.

Bandingkan dengan plafon resminya. Harga Eceran Tertinggi beras medium ditetapkan Rp13.500–Rp15.500 per kilogram dan premium Rp14.900–Rp15.800 per kilogram, bergantung zona.

Beras medium di pasar melampaui batas atas HET-nya sekitar Rp850 per kilogram. Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian memerintahkan satgas menyisir 13 provinsi sampai Desember 2026.

“Sweeping. Beri peringatan. Semua bergerak, segera peringatkan,” katanya kepada Antara, 1 September 2026.

Ironinya, Nilai Tukar Petani Agustus 2026 justru mencapai 129,19 — level tertinggi, menanjak 1,05 persen. Petani sedang menikmati posisi tawar terbaiknya, tepat ketika langit mengirimkan abu.

Leuit yang Tidak Dijual

Empat jam berkendara dari Depok, di lereng Halimun, berdiri sistem cadangan pangan yang tidak pernah memakai kata “operasi pasar”.

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi, menyimpan padi di leuit. Setiap petani memiliki sedikitnya satu lumbung, sebagian hingga belasan. Ada leuit yang dibangun sejak 1838 dan masih berisi padi.

Mereka memanen sekali setahun. “Kami hanya panen padi sekali dalam setahun untuk menghormati ibu bumi,” kata juru bicara adat Yoyo Yogasmana kepada Tempo.

Dan mereka tidak menjualnya. Padi diperlakukan sebagai persediaan hidup, bukan komoditas — pantangan yang bertahan lintas generasi.

Logika ini berkebalikan dengan logika stok negara. Leuit dibangun untuk melewati musim buruk; gudang Bulog dipakai untuk dua tujuan sekaligus, yakni cadangan darurat sekaligus penekan harga.

Dua tujuan itu saling menarik. Setiap ton yang digelontorkan ke pasar mengurangi bantalan untuk keadaan darurat — dan tren stok Juli–September memperlihatkan tarikan tersebut bekerja.

Kearifan ini pun rapuh. Pada akhir Juli 2026, kebakaran melahap Kampung Adat Kasepuhan Cipta Mulya di Sukabumi, memusnahkan puluhan rumah adat berikut leuit dan padi simpanan puluhan tahun.

Sukabumi adalah salah satu dari enam wilayah Jawa Barat yang layanan Makan Bergizi Gratis-nya dihentikan sementara pekan ini karena abu Krakatau. Dalam tempo enam minggu, dua sistem pangan di kabupaten yang sama tersandung: yang adat oleh api, yang negara oleh abu.

Abu Krakatau memang bakal menyuburkan tanah Banten dan Lampung. Menteri Pertanian tidak keliru soal arahnya — ia hanya melompati soal waktunya.

Kesuburan itu tiba untuk cucu, mungkin cicit. Panen yang gagal tiba bulan depan.

Maka pertanyaan yang layak diajukan bukan apakah abu itu berkah atau bencana, melainkan siapa yang menanggung jeda di antara keduanya. Sejauh ini jawabannya konsisten: petani, tanpa polis, sambil menunggu laporan yang belum tersusun.***