Manuskrip Arab Nusantara bukan sekadar bahasa ritual, melainkan bukti penting peran aktif Asia Tenggara dalam tradisi intelektual Islam global. Simak ulasan Andrew Peacock soal naskah kuno yang sempat diabaikan akibat bias era kolonial.
KOSONGSATU.ID – Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam dari University of St Andrews, Inggris, Andrew Peacock, menyatakan manuskrip Arab di Asia Tenggara menyimpan bukti penting tradisi intelektual Islam global. Hal ini dia sampaikan dalam konferensi di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, pada 19 Agustus 2026.
Peacock menyoroti minimnya kajian terhadap manuskrip Arab Nusantara. Padahal, naskah ini menjadi sarana komunikasi tertulis utama dunia Islam sebelum abad ke-19. “Sudah tentu menjadi sulit untuk mempelajari sejarah Islam sebelum 1850 tanpa menggunakan manuskrip,” kata Peacock.
Ihwal keterabaian ini, Peacock menuding adanya pengaruh cara pandang keilmuan pada masa kolonial. Sarjana Barat kala itu lebih memusatkan perhatian pada manuskrip berbahasa Melayu dan Jawa. Karya berbahasa Arab kerap dianaktirikan karena dianggap sekadar produk asing tanpa informasi kehidupan lokal.
Bukan Sekadar Bahasa Ritual
Asumsi bahwa bahasa Arab hanya dipakai sebagai bahasa ritual dinilainya menyesatkan. Bukti manuskrip menunjukkan penggunaan bahasa ini meluas hingga diplomasi, pemerintahan, dan sastra. Para penguasa di Aceh dan Banten bahkan rutin menggunakannya untuk korespondensi diplomatik dengan pihak Eropa.
Selain itu, pertukaran pengetahuan terbukti tidak berjalan satu arah dari Timur Tengah ke Asia Tenggara. Karya intelektual dari Aceh dan wilayah Nusantara lain turut beredar luas. Kondisi tersebut memperlihatkan kawasan ini terhubung erat dengan jaringan keilmuan dunia Islam.
Melalui sirkulasi naskah-naskah kuno tersebut, jaringan intelektual yang menghubungkan Nusantara dengan kawasan lain terungkap jelas. “Manuskrip-manuskrip, salinannya, hingga penulisnya, relatif sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain,” ujar Peacock.***



Tinggalkan Balasan