Sistem hidrolik Kerajaan Nusantara di Mojokerto membuktikan keandalan rekayasa lingkungan abad ke-13 dalam mengendalikan banjir, menahan luah lahar, serta menjamin ketahanan pangan.

KOSONGSATU.ID – Manajer Ekskavasi Tim Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) Cecep Eka Permana menyebut sistem pengairan Majapahit dibangun dengan tumpukan bata layaknya teknologi modern. Kanal kuno Trowulan menjadi bukti kecanggihan tata air tersebut.

​”Luar biasa pengairan zaman Majapahit dahulu,” kata Cecep. Ia menjelaskan bahwa kanal air tersebut dibangun secara sistemik menyerupai rekayasa kota masa kini. Jaringan ini mengintegrasikan pusat istana dengan area permukiman warga.

​Ihwal geografi, ibu kota Majapahit itu berlokasi di kawasan kipas aluvial. Wilayah ini dikelilingi oleh Gunung Anjasmoro, Welirang, dan Penanggungan. Hal ini membuat Trowulan sangat rawan diterjang banjir dan luapan material vulkanik.

Ilustrasi Sistem Irigasi Majapahit. – idsejarah.net

​Sistem Pagar Penyerap dan Waduk

​Untuk mengatasi ancaman alam, teknisi Majapahit mendirikan sistem pagar penyerap. Mereka membangun sekitar 20 waduk kuno di sekitar dataran utara pegunungan. Sebanyak enam waduk di antaranya menjadi infrastruktur pelindung inti.

​Keenam fasilitas itu meliputi Waduk Baureno, Kumitir, Domas, Temon, Kraton, dan Kedung Wulan. Infrastruktur ini menyaring material erupsi vulkanik agar tidak menimpa kota. Sebagian fasad bendungan kini tersisa sebagai cekungan alamiah.

​Selain itu, pasokan air dari waduk dialirkan untuk irigasi persawahan melalui jaringan bawah tanah. Distribusi tata air ini diawasi secara ketat oleh negara. Data Prasasti Jiwu bertarikh 1486 Masehi mencatat eksistensi petugas pengatur pintu air.

​Kolam Segaran dan Jaringan Kanal

​Pusat kota juga diperkuat dengan fasilitas penampungan air berskala masif. Terdapat tiga kolam buatan, yakni Kolam Segaran, Balong Bunder, dan Balong Dowo. Kolam Segaran yang membentang seluas 6,5 hektare secara khusus berfungsi menampung debit limpahan kota.

​Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Mendiang Profesor Mundardjito menilai jaringan kanal yang lurus berpola kisi-kisi menunjukkan kekuatan otoritas negara. Kanal selebar lebih dari 20 meter ini diyakini membutuhkan pengerahan tenaga massal yang masif dalam pembangunannya.

​Sebelumnya, mitigasi kebencanaan ini ikut memanfaatkan petirtaan Candi Tikus sebagai fasilitas pengukur debit curah hujan. Saat volume air berlebih, pipa berbahan tanah liat bakar akan mengalirkannya ke sungai. Hal ini menandakan standar sanitasi yang tinggi.

​Secara kosmologis, desain tata air ibu kota mengadopsi konsep filosofis Jambudwipa. Pengajar Sejarah Universitas Negeri Surabaya Hanan Pamungkas menyebut kawasan istana Majapahit ditempatkan posisinya sebagai representasi pusat jagat raya.

​Arkeolog Dwi Cahyono menyepakati tafsir kosmologis mengenai rancangan infrastruktur air warisan Nusantara kuno tersebut. “Kolam Segaran dan kanal bisa dianggap sebagai samudra yang melengkapi pusat kosmik,” kata Dwi.

Ironisnya, peradaban yang mampu menundukkan amarah gunung berapi dan menjinakkan banjir ini justru runtuh, meninggalkan mahakarya hidrolik yang perlahan tertimbun lumpur. Kini, saat kota-kota modern kita terus-menerus kalah melawan banjir, sebuah pertanyaan besar tertinggal di situs Trowulan: mungkinkah cetak biru tata kota terbaik di Nusantara sebenarnya tidak pernah hilang, melainkan hanya sedang menunggu kita untuk kembali membacanya?***

​Daftar Rujukan:

  • Haminoto, Rio. (2017). Erstwhile Persekutuan Sang Waktu. Jakarta: Gramedia.
  • Indradewa, Didik. (2021). Etnoagronomi Indonesia. Yogyakarta: Lily Publisher.
  • Ramadhan, Prasetya. (2020). Jejak-Jejak Peradaban Majapahit. Yogyakarta: Araska.
  • Laporan Penelitian Tim Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) (2012).
  • Catatan dan kajian arkeologi dari Profesor Mundardjito, Hanan Pamungkas, Dwi Cahyono, dan Bambang Siswoyo terkait manajemen tata air dan kosmologi Trowulan.