Sepuluh warga Gaza ditembak saat mengantre bantuan di Rafah. Dalam enam minggu, total korban tembus 798 jiwa. PBB mengecam: orang datang cari makan, tapi justru ditembak.


KOSONGSATU.ID—Sebanyak sepuluh warga Palestina tewas tertembak saat mengantre bantuan makanan di Rafah, Gaza selatan, Jumat, 11 Juli 2025. Insiden ini menambah panjang daftar korban sipil dalam enam pekan terakhir.

Data PBB mencatat, sejak akhir Mei hingga 7 Juli, sedikitnya 798 warga sipil tewas saat mencoba mengakses bantuan kemanusiaan. Sebagian besar, yakni 615 korban, meninggal di sekitar lokasi distribusi yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF).

GHF adalah lembaga baru bentukan Amerika Serikat dan Israel. Organisasi ini mengambil alih distribusi bantuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menolak ikut serta karena menilai GHF berpotensi menjadi instrumen militer Israel.

“Orang-orang datang untuk makan dan minum. Tapi justru ditembak. Ini tak bisa diterima,” kata juru bicara Komisi HAM PBB, Ravina Shamdasani, dalam konferensi pers di Jenewa.

PBB mengecam keras pola kekerasan yang terus berulang di lokasi distribusi. Menurut mereka, Gaza kini berada dalam kondisi darurat kemanusiaan yang ekstrem. Antrean makanan berubah menjadi zona tembak. Akses terhadap bantuan justru berujung kematian.

Situasi lapangan sulit diverifikasi. Wilayah Gaza hampir tertutup bagi media internasional. Informasi mengenai korban hanya bisa diperoleh dari sumber-sumber lokal, yang juga berada dalam kondisi terancam.

Sementara itu, perundingan gencatan senjata tengah berlangsung di Doha, Qatar. Israel dan Hamas disebut sedang merancang jeda perang selama 60 hari. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan, gencatan sementara ini bisa menjadi jalan menuju negosiasi damai permanen.

Namun, ironi membayangi proses diplomasi tersebut. Di saat para pemimpin membahas gencatan senjata, warga sipil terus berguguran di lapangan. Tak hanya akibat serangan udara, tetapi juga saat mereka sekadar mencoba bertahan hidup lewat bantuan makanan.

PBB menegaskan, penembakan terhadap warga sipil yang mengakses bantuan melanggar hukum humaniter internasional. Mereka mendesak semua pihak, terutama Israel, untuk menghentikan serangan di zona distribusi dan mengembalikan kendali bantuan kepada lembaga netral.

“Ini bukan hanya pelanggaran. Ini kekejaman. Dan dunia tidak boleh diam,” kata Shamdasani.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari GHF maupun otoritas Israel terkait penembakan terbaru di Rafah. Namun tekanan internasional terus meningkat. Organisasi kemanusiaan global mendesak penyelidikan independen atas pola kekerasan terhadap warga yang mencari bantuan.

Di tengah blokade dan kehancuran infrastruktur, bantuan kemanusiaan menjadi satu-satunya harapan hidup bagi jutaan warga Gaza. Ketika akses itu pun berubah menjadi jebakan maut, dunia dihadapkan pada kegagalan moral yang sulit dibantah.*