Pertanian bukan hanya soal pangan, tapi soal bertahan hidup. Saat dunia krisis, hanya bangsa yang bisa makan dari tanahnya sendiri yang benar-benar merdeka. Saatnya kembali menanam.
Indonesia bukan hanya negeri yang subur—ia adalah tanah yang diberkahi. Hujan turun tanpa kita minta, tanah memberi tanpa banyak tuntutan, dan laut tak pelit menyuguhkan hasilnya. Tapi kini, tanah itu seperti bicara dalam diam: kita lupa caranya bersyukur.
Kita berdiri di atas negeri yang dahulu cukup untuk semua. Tapi hari ini, kita justru menjadi peminta kepada negeri-negeri lain. Kita mengimpor beras, gula, garam, bahkan kedelai—bahan-bahan yang seharusnya bisa kita tanam dan panen sendiri.
Apa yang terjadi?
Kita terlalu jauh melangkah dari akar. Kita sibuk membangun gedung dan jaringan digital, tapi lupa bahwa yang paling dasar tetap sama: manusia butuh makan. Dan makan yang sejati adalah dari tanahnya sendiri.
Presiden Prabowo Subianto menangkap urgensi ini dengan jernih. Dalam program ketahanan pangan yang kini menjadi salah satu prioritas nasional, beliau tidak hanya bicara soal swasembada. Ia bicara soal kedaulatan, soal harga diri bangsa, dan soal strategi pertahanan nasional. Karena bangsa yang tak bisa memberi makan rakyatnya sendiri adalah bangsa yang lemah di mata dunia.
Ketahanan pangan bukan hanya proyek ekonomi. Ia adalah tameng saat krisis datang. Ia adalah benteng saat perang tak lagi hanya senjata, tapi juga soal pasokan. Dan di tengah ancaman global yang makin nyata—dari perubahan iklim, geopolitik yang tegang, hingga rantai pasok yang terganggu—ketahanan pangan menjadi nadi yang tak boleh putus.
Gerak besar pemerintah ini bersambut seirama dengan langkah-langkah spiritual dan sosial yang lahir dari akar masyarakat sendiri. Salah satunya melalui gerakan Tarekat Shiddiqiyyah, yang tidak sekadar mengajarkan zikir dan dzahir, tetapi juga menanamkan cinta tanah air secara nyata.
Melalui Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) dan Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTAI), semangat pertanian bukan hanya dirawat, tapi dihidupkan kembali sebagai bagian dari ibadah dan perjuangan. Di tangan para pemuda ini, sawah bukan hanya ladang pangan, tapi ladang pengabdian. Menanam menjadi bentuk syukur. Memanen menjadi bentuk perjuangan.
Inisiatif Tarekat Shiddiqiyyah ini menyatu dengan visi besar negara: membangun ketahanan pangan tidak hanya dari kebijakan, tapi dari kesadaran. Dari kesucian niat, dari cinta kepada tanah air, dan dari keyakinan bahwa bangsa besar adalah bangsa yang berdiri di atas tanah yang ditanaminya sendiri.
Mereka tidak menunggu, mereka bergerak. Dari desa ke desa, dari lahan kecil hingga kebun luas. Mereka mengajak bukan hanya untuk makan dari tanah sendiri, tapi juga mencintai tanah itu sebagai amanah Tuhan. Ini bukan sekadar gerakan tani. Ini adalah gerakan jiwa.
Jika hari ini pertanian dianggap kuno, tak menguntungkan, atau tidak menarik, maka tugas kita adalah mengubah pandangan itu. Bukan lewat promosi kosong, tapi lewat bukti. Bahwa tanah bisa memberi. Bahwa petani bisa berjaya. Bahwa masa depan bisa tumbuh dari lumpur, bukan hanya dari layar.
Saat dunia panik karena krisis, saat negara-negara berebut pasokan pangan, kita harus siap berdiri tegak: karena kita punya tanah, kita punya tangan yang mau bekerja, dan kita punya keyakinan.
Inilah waktunya kembali pulang—pulang ke tanah, ke akar, ke kekuatan yang selama ini kita abaikan.
Pangan adalah pertahanan.
Petani adalah pahlawan.
Dan menanam hari ini adalah cara kita menyelamatkan esok.
Bersama negara.
Bersama masyarakat.
Bersama OPSHID FKYME.
Bersama PCTAI.
Kita tanam untuk menang. Kita tanam untuk merdeka.*




Tinggalkan Balasan