Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo resmi mengubah nama Taman Kota peninggalan Belanda menjadi Taman Harmoni. Langkah ini bertujuan mempertegas identitas Pasuruan sebagai kota multikultural yang toleran.


KOSONGSATU.ID – Identitas baru kini melekat pada salah satu ikon bersejarah di Kota Pasuruan. Pemerintah Kota Pasuruan secara resmi mengubah nama Taman Kota Pasuruan—ruang terbuka hijau peninggalan kolonial Belanda yang terletak di Jalan Pahlawan—menjadi Taman Harmoni.

Peresmian nama baru ini dilakukan langsung oleh Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, pada Selasa (10/2/2026). Langkah ini bukan sekadar pergantian nomenklatur administratif, melainkan upaya strategis untuk mempertegas city branding Pasuruan sebagai kota multikultural yang menjunjung tinggi toleransi.

Jejak Stadstuin di Kawasan Eropa

Secara historis, taman yang berada di jantung kota ini memiliki rekam jejak panjang. Berdasarkan data arsip, kawasan Jalan Pahlawan dulunya dikenal sebagai Europese Wijk atau kawasan permukiman elit Eropa.

Taman ini dibangun sekitar tahun 1930-an dengan nama awal Stadstuin (Taman Kota). Pada 7 Agustus 1934, Dewan Kota di masa kolonial sempat mengubah namanya menjadi Burgemeester Boissevain Park untuk menghormati H.E. Boissevain, Wali Kota Pasuruan kala itu. Setelah kemerdekaan, masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan umum “Taman Kota” atau “Taman Jamagung” karena letaknya yang berdekatan dengan menara air (Jam Agung).

Simbol Keberagaman

Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, dalam pidato peresmiannya menegaskan bahwa pemilihan nama “Harmoni” telah melalui proses panjang, termasuk forum “Sarasehan Budaya” yang melibatkan sejarawan, budayawan, dan tokoh masyarakat pada 5 Februari 2026 lalu.

“Taman Kota bukan sekadar ruang hijau, melainkan ruang publik yang memiliki sejarah panjang dan menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang,” ujar Adi Wibowo, Selasa (10/2).

Menurut Adi, Pasuruan dikenal sebagai kota santri sekaligus kota perdagangan yang mempertemukan etnis Jawa, Madura, Arab, dan Tionghoa. Nama baru ini diharapkan menjadi doa sekaligus pengingat identitas kota.

“Kota Pasuruan dikenal sebagai kota multikultural dengan spirit religius yang kuat. Nama ‘Harmoni’ adalah doa dan harapan agar kota ini terus damai dalam keberagaman,” tambahnya.

Jembatan Masa Lalu dan Masa Depan

Perubahan nama ini juga mencakup penamaan gedung eks kantin di lingkungan Pemkot menjadi Gedung Groedo, sebuah nama yang diambil dari unsur arsitektur lokal. Adi Wibowo menekankan bahwa modernisasi kota tidak boleh mencabut akar sejarah.

“Kita ingin menatap masa depan tanpa terpisah dari akar budaya dan sejarah. Penamaan Taman Harmoni diharapkan menjadi jembatan sejarah antara masa lalu dan masa depan,” tegas Adi.

Dengan wajah dan nama baru ini, kawasan Jalan Pahlawan diproyeksikan tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota, tetapi juga destinasi wisata sejarah (heritage tourism) yang terintegrasi dengan visi “Pasuruan Kota Madinah” (Maju, Damai, Indah, dan Harmoni).***