Donald Trump kembali berseteru dengan Vatikan usai menyerang balik kritik Paus Leo XIV terkait kebijakan perang AS-Israel.
KOSONGSATU. ID – Serangan verbal yang dilontarkan Trump ini tidak hanya memicu gelombang kecaman domestik dan internasional, tetapi juga menambah daftar panjang pasang surut hubungan diplomatik antara Washington dan Takhta Suci.
Insiden tersebut kembali membuktikan bahwa jurang pemisah antara kerasnya kebijakan luar negeri Gedung Putih dan otoritas moral Vatikan kerap kali tak terhindarkan.
Konflik Terbuka Trump dan Paus Leo XIV
Gedung Putih dan Takhta Suci kembali bersitegang. Perseteruan terbaru bermula ketika Paus Leo XIV mengkritik keras dukungan Amerika Serikat terhadap langkah militer Israel terhadap Iran.
Sang Paus menegaskan bahwa ancaman Donald Trump untuk menghancurkan Iran sangat tidak dapat diterima, sekaligus mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah memihak pada mereka yang mengobarkan peperangan.
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi emosional dari Trump. Alih-alih merespons secara diplomatis, Trump menyerang Paus secara personal.
Ia menyebut pemimpin Vatikan itu sebagai sosok yang lemah dalam menghadapi kejahatan dunia dan tidak kompeten mengurus kebijakan luar negeri. Trump bahkan secara terang-terangan menyatakan keengganannya memiliki seorang Paus yang berani mengkritik Presiden Amerika Serikat.
Trump semakin memperkeruh suasana dengan mengunggah gambar hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya menyerupai Yesus.
Terbaru, Trump kembali mengkritik Paus Leo XIV, dan mengatakan bahwa memiliki bom nuklir bagi Iran adalah “tidak dapat diterima”.
“Bisakah seseorang memberi tahu Paus Leo bahwa Iran telah membunuh setidaknya 42.000 demonstran tak bersenjata yang tidak bersalah dalam dua bulan terakhir, dan bahwa memiliki bom nuklir bagi Iran sama sekali tidak dapat diterima,” tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social, dilansir Al Arabiya dan Reuters, Rabu (15/4/2026).
Langkah ini sontak memanen kecaman dari berbagai pihak, termasuk sekutu politiknya sendiri. Tokoh konservatif Marjorie Taylor Greene menyamakan tindakan Trump dengan “roh Antikristus”, sementara Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menilai serangan tersebut sangat tidak pantas.
Konferensi Uskup Katolik AS turut menyayangkan sikap Trump yang mereka anggap meremehkan otoritas moral pemimpin Gereja.
Pengaruh Kuat Takhta Suci di Amerika
Sikap keras para politisi terhadap Vatikan selalu membawa risiko elektoral yang besar di Amerika Serikat. Saat ini, Gereja Katolik berdiri sebagai denominasi agama terbesar di negara tersebut.
Dengan lebih dari 60 juta pengikut—mencakup sekitar 20 persen populasi dewasa AS—suara dan pandangan Paus memegang kendali yang signifikan dalam membentuk opini publik.
Sejarah Panjang Perbedaan Visi Gedung Putih dan Vatikan
Ketegangan antara kepala negara AS dan pemimpin Vatikan sebenarnya bukan fenomena baru. Jauh sebelum insiden ini, Trump juga pernah berselisih paham dengan Paus Fransiskus pada 2016 silam. Saat itu, Paus Fransiskus menyentil rencana Trump membangun tembok perbatasan AS-Meksiko.
Sang Paus menegaskan bahwa seseorang yang hanya memikirkan tembok, dan bukan jembatan, bukanlah cerminan seorang Kristen. Trump merespons tajam dengan menyebut komentar tersebut sebagai sesuatu yang memalukan bagi seorang pemuka agama.
Mundur ke era Barack Obama, hubungan Washington dan Vatikan juga kerap menemui jalan buntu. Obama dan Vatikan sering berseberangan terkait isu aborsi dan kebebasan beragama. Vatikan bahkan sempat menunda penerimaan calon duta besar AS, sementara lembaga keuangan Amerika membalas dengan memasukkan Vatikan ke dalam daftar pengawasan pencucian uang.
Puncak ketegangan terjadi ketika muncul laporan dugaan penyadapan komunikasi internal Vatikan oleh intelijen AS menjelang pemilihan Paus yang baru.
Perbedaan prinsip yang tajam juga mewarnai pemerintahan George W. Bush. Pada tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II secara vokal menolak invasi AS ke Irak dan melabelinya sebagai “kekalahan bagi kemanusiaan”. Ia mengutus perwakilan khusus untuk membujuk Bush agar mengurungkan niatnya.
Namun, Bush tetap menekan tombol perang karena meyakini langkahnya sejalan dengan kehendak Tuhan.
Sementara itu, pada masa pemerintahan Bill Clinton, isu moral menjadi jurang pemisah utama. Paus Yohanes Paulus II berulang kali menegur kebijakan pemerintah AS di forum internasional, khususnya yang berkaitan dengan legalisasi aborsi dan promosi kontrasepsi, karena melanggar doktrin utama Gereja.
Rentetan peristiwa ini membuktikan bahwa hubungan antara Presiden Amerika Serikat dan Vatikan selalu berjalan di atas garis tipis antara diplomasi politik dan otoritas moral.
Selama kebijakan Gedung Putih bersinggungan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian yang Vatikan junjung, benturan pandangan tampaknya akan terus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah kedua negara. ***




Tinggalkan Balasan