Islam tidak menghapus simbol-simbol Majapahit, seperti Surya Majapahit, melainkan mengisinya dengan makna baru—menunjukkan akulturasi damai antara warisan Hindu-Jawa dan spiritualitas Islam.

KOSONGSATU.ID—Coba sesekali mampir ke Masjid Agung Demak. Bukan sekadar untuk shalat, tapi juga menengok sejenak langit-langit kayunya yang sudah berusia lebih dari lima abad.

Di sana, di antara ukiran khas Jawa, ada satu simbol yang mencuri perhatian: matahari bersinar delapan arah, dengan lingkaran di tengah. Simbol ini dikenal sebagai “Surya Majapahit”, lambang kerajaan Hindu-Buddha terbesar dalam sejarah Nusantara.

Lambang Matahari Majapahit di atas mihrab Masjid Agung Demak yang masih ada sampai sekarang. | FOTO: Dok. Good News from Indonesia

Lho, tunggu dulu. Ini masjid, kan? Kenapa ada simbol Hindu di dalamnya?

Itulah salah satu misteri kecil yang justru menyimpan jawaban besar tentang cara Islam menyebar di tanah Jawa.

Jawaban yang sangat jauh dari kesan penaklukan, pemusnahan, atau penghapusan budaya. Sebaliknya, Islam datang dengan kesabaran, kebijaksanaan, dan daya adaptasi yang luar biasa.

Bukan Dihapus, Tapi Diisi Ulang Maknanya

Surya Majapahit, di masa kejayaannya, bukan sekadar simbol kerajaan. Ia adalah representasi kosmos: delapan arah mata angin dengan Dewa Siwa di pusatnya.

Setiap penjuru diisi oleh dewa pelindung—Brahma, Wisnu, Rudra, dan lainnya. Semua ini mengisyaratkan harmoni semesta, keteraturan alam, dan spiritualitas Hindu-Jawa yang kompleks.

Namun, ketika Islam datang, terutama lewat peran Wali Songo, simbol-simbol seperti ini tidak dimusnahkan. Mereka justru diberi ruh baru.

Contohnya: Surya Majapahit di Masjid Demak bukan lagi lambang Dewa Siwa. Ia dimaknai ulang sebagai “Nur Ilahi”—cahaya ketuhanan yang dalam Islam disebut sebagai “Allahu nūr as-samāwāti wa al-ard” (QS. An-Nur: 35).

Bahkan dalam tafsir sufistik, lambang ini bisa dipahami sebagai Nur Muhammad—cahaya spiritual pertama yang menyinari semesta.

Alih-alih dimusuhi, simbol ini didekati dan dirangkul. Tidak dihancurkan, tapi diisi ulang maknanya.

Islam Tidak Datang Membabat, Tapi Merawat

Inilah keunikan Islam di Jawa: ia tidak datang seperti topan yang merobohkan bangunan lama, melainkan seperti air yang menyuburkan akar-akar yang telah ada.

Sunan Kalijaga tidak mengharamkan wayang, tapi menjadikannya kendaraan dakwah. Gamelan, batik, ukiran, hingga struktur arsitektur candi, semua tetap hidup—hanya maknanya yang digeser sedikit demi sedikit.

Sejarawan Agus Sunyoto menyebut proses ini sebagai “pengislaman simbol”. Yang diubah bukan bentuk luarnya, tapi isi spiritualnya. Surya Majapahit tetap bersinar di masjid, tapi bukan lagi sebagai lambang kerajaan Hindu-Buddha, melainkan sebagai simbol cahaya Tuhan dalam Islam.

Denys Lombard, sejarawan Prancis, bahkan menyebut Kesultanan Demak sebagai “Majapahit dalam versi Islam”. Elite-elite Majapahit banyak yang masuk Islam, dan bukannya memutus masa lalu, mereka membawanya ke arah yang baru.

Demak bukan anak yang durhaka pada leluhurnya, tapi pewaris sah yang memberi napas baru.