Presiden RI Prabowo Subianto memanfaatkan panggung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyampaikan seruan tegas: dunia tidak boleh lagi menunda pengakuan atas Palestina sebagai negara merdeka. Baginya, solusi dua negara bukan sekadar opsi, melainkan keharusan moral dan politik.
KOSONGSATU.ID—“Hanya solusi dua negara ini yang akan mengarah pada perdamaian. Kita harus menjamin kenegaraan bagi Palestina. Namun, Indonesia juga menyatakan bahwa begitu Israel mengakui kemerdekaan dan kenegaraan Palestina, Indonesia akan segera mengakui Negara Israel dan kami akan mendukung semua jaminan untuk keamanan Israel,” kata Prabowo dalam pidatonya di “High-level International Conference on the Peaceful Settlement of the Question of Palestine” di Markas Besar PBB, New York, Selasa (23/9) dini hari WIB.

Dukungan ASEAN Masih Terbatas
Di Asia Tenggara, Brunei Darussalam menjadi satu-satunya negara yang secara penuh mengakui Palestina sebagai negara. Indonesia dan Malaysia konsisten menjadi suara paling vokal dalam forum internasional, sementara Singapura, Thailand, hingga Vietnam belum mengambil langkah serupa.
“Keberanian Brunei bisa jadi teladan di kawasan,” demikian tulis Arab News dalam laporannya belum lama ini.
Krisis Kemanusiaan Tak Terbantahkan
Prabowo menekankan, penderitaan rakyat Palestina bukan sekadar angka di atas kertas. Laporan UNICEF menyebut, pada Juli 2025, satu dari empat warga Gaza atau sekitar 500 ribu orang menghadapi ancaman kelaparan. Tingkat malnutrisi anak-anak mencapai level kritis, dengan jumlah kematian melonjak tajam.
Sejak awal serangan Israel pada 2023, lebih dari 60 ribu warga Palestina tewas hingga Juli 2025. Angka itu mencakup 18.430 anak dan 9.735 perempuan.
Sementara itu, data UNRWA melaporkan ribuan rumah, sekolah, dan rumah sakit hancur, membuat warga kehilangan akses air bersih, listrik, serta obat-obatan.
“Ini bukan sekadar statistik dingin, melainkan penderitaan nyata,” tegas Prabowo.
Gelombang Pengakuan Global
Di luar kawasan, gelombang pengakuan Palestina terus menguat. Reuters mencatat, Inggris, Kanada, Australia, Portugal, Prancis, dan Malta telah mengumumkan pengakuan resmi pada 2024–2025. Langkah itu memperlihatkan bahwa tekanan moral dan diplomatik terhadap Israel kian besar, bahkan dari sekutu tradisionalnya.
“Dunia internasional sedang bergerak. Gelombang pengakuan ini menandai bahwa isu Palestina bukan lagi wacana, melainkan agenda nyata,” ujar analis Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi.
Indonesia Dorong Kepemimpinan Moral
Pidato Prabowo di PBB mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan suara moral terkuat. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan sejarah panjang diplomasi bebas-aktif, Indonesia berada pada posisi strategis untuk mendorong konsensus global.
“Indonesia bisa memainkan peran kunci. Bila pengakuan Palestina meluas, tekanan internasional akan semakin besar agar Israel mau menghentikan agresi,” kata mantan Menlu Hassan Wirajuda, dalam wawancara dengan Kompas, Senin (22/9).




Tinggalkan Balasan