“Kalau bangsa ini mau merdeka, maka akalnya harus lebih tajam dari ilusi dan doktrin.” — Tan Malaka, Madilog
KOSONGSATU.ID—Di tengah ketegangan revolusi dan ancaman militer Jepang yang setiap saat bisa menyeretnya ke tiang gantung, Tan Malaka menulis buku yang tak biasa. Bukan pamflet politik. Bukan manifesto pembebasan nasional. Tapi sebuah kitab pemikiran: Madilog. Buku yang bagi Tan lebih penting daripada senjata. Lebih tajam daripada peluru.
Dan pada pilar terakhirnya—setelah materialisme dan dialektika—Tan menutup Madilog dengan sesuatu yang baginya paling fundamental: logika. Ia tahu, pertarungan terbesar bangsa ini bukan hanya di medan tempur, tapi di dalam kepala rakyatnya sendiri.
Logika Sebagai Hak Rakyat
Logika, bagi Tan Malaka, bukan milik para filsuf atau dosen universitas. Logika adalah hak rakyat. Bahkan, logika adalah satu-satunya pertahanan terakhir rakyat dari penindasan pikiran. Di tengah masyarakat yang terlanjur memuja hierarki, taklid, dan gelar akademik, Tan datang dengan pesan yang tak populer: “Berpikirlah sendiri.”
Ia melihat bagaimana rakyat Indonesia terlalu sering mewarisi cara berpikir yang penuh “feodalisme akal.” Kita terbiasa patuh sebelum bertanya, percaya sebelum memahami, dan mengikuti sebelum berpikir. Kita diajarkan sejak kecil bahwa diam adalah sopan, ragu adalah dosa, dan bertanya berarti kurang ajar. Maka, Tan Malaka merasa bangsa ini harus memulai revolusi dari akarnya—dari cara berpikir.
Melawan Feodalisme Pikiran
Dalam Madilog, logika dihidangkan sebagai alat pembebasan. Tan tidak sedang mengajari silogisme atau hukum logika formal seperti di bangku kuliah. Ia mengajari bagaimana cara berpikir yang sehat, runut, dan tidak takluk pada ilusi. Bagaimana menimbang sebuah klaim. Bagaimana menolak ucapan yang tak punya dasar. Dan yang paling penting, bagaimana tidak membiarkan kepala kita jadi tempat parkir opini orang lain.
Ia menulis dengan gelisah, karena melihat banyak rakyat percaya kepada pemimpin karena “katanya pintar”, bukan karena idenya masuk akal. Ia melihat bagaimana keputusan politik diambil atas dasar firasat, bukan data. Bagaimana mimpi, wangsit, dan ramalan bisa mengalahkan pemikiran rasional.
Tan mengkritik ini sebagai penyakit sosial. Sebuah bangsa yang tidak membiasakan berpikir logis akan selalu kalah sebelum berperang. Ia akan dengan mudah diperdaya. Ia akan mudah diadu domba. Ia akan percaya kepada siapa saja yang paling nyaring bicara.
Logika sebagai Revolusi Sunyi
Tan Malaka percaya bahwa kebebasan sejati hanya mungkin jika manusia bebas berpikir. Dan berpikir itu artinya menimbang, mempertanyakan, menolak jika perlu. Maka logika dalam Madilog bukan sekadar ilmu berpikir, melainkan semangat untuk tidak mudah percaya.
Dalam masyarakat yang menganggap kritik sebagai ancaman, logika adalah perlawanan diam. Dalam lingkungan yang memuliakan keseragaman, logika adalah pilihan untuk berbeda. Dan dalam dunia politik yang penuh kebohongan terstruktur, logika adalah senjata terakhir yang bisa menyelamatkan nalar rakyat dari manipulasi.




Tinggalkan Balasan