Di tengah harmoni Pulau Dewata, sekelompok warga Muslim dari Tarekat Shiddiqiyyah Bali membangun rumah untuk seorang lansia Hindu sebagai wujud syukur kemerdekaan. Bukan sekadar amal, tapi pernyataan cinta pada toleransi dan kebangsaan.
KOSONGSATU.ID—Di Banjar Taman, Desa Tuwed, Jembrana, Bali, wajah seorang lelaki tua berseri-seri menatap rumah barunya yang hampir rampung.
Dialah I Made Sumade, 80 tahun, seorang warga Hindu yang menjadi penerima Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) dari keluarga besar Tarekat Shiddiqiyyah di Bali.
Dengan suara parau tapi penuh syukur, dia berkata, “Saya sangat senang dapat rumah ini. Syukur sekali, ini hadiah kemerdekaan yang tak pernah saya bayangkan.”
Made tinggal bersama istri, anak, menantu, dan cucunya di rumah lama. Sebelumnya, selama bernaung di bangunan lama, Made mengaku atap rumah sering bocor. Kondisinya memang sangat mengenaskan. Karena itu pulalah Made dinilai layak menerima bantuan program RSKILHS.
“Terima kasih sekali lagi sudah dibangunkan rumah. Saya tidak pernah menyangka. Mereka (warga Shiddiqiyyah) tidak pernah saya kenal, datang dari jauh, lalu membangunkan rumah untuk saya. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa saya ucapkan. Saya bingung mau membalas bagaimana,” katanya, kepada Mustadji, salah satu wali talkin Shiddiqiyyah yang berdomisili di Bali, yang juga bagian dari tim pembangunan, Jumat (18/7).
Made pun hanya bisa mendoakan semua relawan yang membangun rumahnya selalu dalam keadaan sehat, tenteram, jaya, dan lestari.

Rumah yang dibangun bukan hanya berdinding bata dan beratap genteng. Ia berdiri dari semangat kebangsaan, dari rasa cinta sesama anak bangsa, dari niat tulus lintas iman.
Rumah itu adalah satu dari lima rumah yang telah dibangun warga Shiddiqiyyah untuk saudara-saudara non-Muslim, khususnya umat Hindu, di pulau Bali.
“Kami ingin mempererat persaudaraan. Di Bali, kami sebagai warga Muslim adalah bagian dari keluarga besar masyarakat Hindu. Ini bentuk kasih kami,” ujar Mujani, Sekretaris RSKILHS dari Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) Bali.
Pembangunan rumah-rumah ini bukan tanpa tantangan. Namun, di balik segala dinamika teknis, ada hal yang lebih menyentuh: reaksi warga sekitar. “Banyak yang takjub,” tutur Mujani. “Mereka bilang, ‘Jarang ada yang begini.’ Tapi bagi kami, ini bukan soal jarang atau sering. Ini soal niat—untuk membangun jembatan, bukan tembok.”
Rumah Made ini bukan hunian pertama yang dibangun warga Shiddiqiyyah di Pulau Dewata. Sejak tahun 2013, sedikitnya tercatat ada 13 rumah yang dibangun berdasarkan semangat kebangsaan lintas-iman. Delapan rumah dibangun untuk warga Muslim, sementara lima lainnya untuk mereka yang beragama Hindu.
Proses pengerjaan rumah Made Sumade sendiri diupayakan selesai dalam 1–2 bulan ke depan.
Pada akhirnya, rumah itu tak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung, tetapi juga menjadi simbol bahwa kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan upacara, tapi juga dengan tindakan nyata yang menyatukan hati-hati yang berbeda keyakinan—namun satu dalam cinta Tanah Air.***




Tinggalkan Balasan