“Ini mah rumah mewah, bukan sekadar kaleng-kaleng,” kata seorang warga penerima bantuan Rumah Pintar Shiddiqiyyah (RPS). Ia tak menyangka bakal tinggal di rumah sebagus itu.
KOSONGSATU.ID—Moch Shodiqul Aziz, Penanggung Jawab Material dan Tenaga Kerja Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) di proyek RPS Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Sukabumi, mengaku tak sengaja mendengar percakapan hangat warga sekitar proyek yang lagi ‘nonton’ proses pembangunan yang dikerjakan relawan.
Dalam bahasa Sunda yang khas, mereka mengaku kagum dengan bangunan yang sedang digarap itu.
“Ini mah rumah mewah, bukan sekadar kaleng-kaleng,” begitu Azis menirukan ucapan salah satu warga, dikutip Senin (30/6).
Menurut Azis, beberapa warga juga sempat bertanya-tanya: bagaimana mungkin sebuah pesantren bisa membangun rumah sekelas itu—yang menurut standar mereka mewah?
Apalagi yang dibangun bukan cuma satu, tapi tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Di wilayah Sukabumi saja ada lima. Dan total ada 136 Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) yang dibangun serentak di berbagai wilayah di Tanah Air.
Yang membuat mereka lebih terkesan lagi, semua ini dibangun untuk menyambut Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam sudut pandang mereka, apa yang dikerjakan OPSHID maupun warga Shiddiqiyyah lainnya “tidak lazim”. Agak laen.
“Kalau kita mah biasanya merayakan 17-an cuma hura-hura, bikin tontonan meriah. Tapi yang ini beda, ya,” timpal warga lainnya—sembari berbincang dengan para tetangga, termasuk Pak RT, seorang ustaz TPQ, dan tiga orang lain yang ikut berkumpul.

Kekaguman mereka beralasan. Karena baru kali itu mereka berinteraksi langsung dan menyaksikan sendiri program rumah layak huni Shiddiqiyyah—yang sebenarnya rutin dikerjakan seluruh warga tarekat ini di Indonesia. Wajar jika mereka merasa kagum, karena bertemu dengan hal sama sekali baru untuk mereka, bermanfaat lagi.
Sebagaimana diketahui, untuk tahun ini, warga Shiddiqiyyah se-Indonesia Raya membangun 136 RSKILHS. Proyek ini bukan sekadar simbolis—melainkan benar-benar diwujudkan.
Khusus untuk progek OPSHID, ada lima rumah pintar yang dikerjakan untuk lima keluarga kurang mampu di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Prosesnya dimulai dengan pembongkaran total rumah-rumah lama yang sudah tidak layak huni. Bongkar rata dimulai Sabtu, 14 Juni 2025 lalu, dengan target yang penuh semangat: seluruh rumah harus rampung dan siap ditempati tepat pada 17 Agustus 2025—hari peringatan kemerdekaan yang ke-80 tahun Bangsa Indonesia.
Hanya dua bulan waktu pengerjaan, tapi semangat gotong royong yang menyala di antara para pekerja dan relawan menjadi modal utama.
Bagi mereka, kemerdekaan bukan hanya dirayakan dengan pesta dan lomba, tapi dengan aksi nyata yang membawa manfaat langsung bagi sesama.
Inilah cara mereka memaknai kemerdekaan: bukan sekadar mengibarkan bendera, tapi membangun harapan. Rumah demi rumah—dari pesantren untuk Indonesia Raya.***




Tinggalkan Balasan