Presiden Prabowo menargetkan pembangunan satu juta rumah murah pada 2025 dengan meniru skema perumahan publik Singapura untuk mengatasi backlog hunian dan memperluas akses bagi masyarakat berpenghasilan rendah.


KOSONGSATU.ID–Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan akan mempercepat pembangunan rumah murah bagi masyarakat Indonesia, meniru keberhasilan skema perumahan publik di Singapura yang terbukti mampu menyediakan hunian layak bagi mayoritas penduduknya.

Pernyataan ini disampaikan Prabowo usai bertemu Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, Senin (16/6), dalam kunjungan bilateral yang membahas sejumlah kerja sama strategis. Dalam keterangannya, Prabowo menyebut program perumahan murah menjadi salah satu prioritas utama pemerintahannya pada 2025.

“Singapura memiliki berbagai kebijakan yang sukses, salah satunya adalah perumahan murah untuk seluruh warga. Program seperti itu sudah diinisiasi di era Presiden SBY dan Jokowi, dan sekarang akan kita kebut,” ujarnya.

Prabowo menargetkan pembangunan satu juta unit rumah tapak dan rumah susun (rusun) pada 2025. Fokus utama program ini adalah menyediakan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pekerja informal yang selama ini sulit mengakses kredit kepemilikan rumah (KPR).

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2023, masih ada sekitar 12,7 juta rumah tangga di Indonesia yang belum memiliki rumah layak huni. Sementara itu, backlog perumahan nasional mencapai lebih dari 9 juta unit. Kementerian PUPR mencatat bahwa dalam lima tahun terakhir, rata-rata pembangunan rumah hanya mencapai 750.000 unit per tahun, jauh dari kebutuhan ideal tahunan.

Mengadopsi model perumahan Singapura, pemerintah berencana menggabungkan sistem pembangunan massal berbasis rusun dengan pola pembiayaan jangka panjang yang terjangkau, serupa dengan skema Home Ownership Scheme (HOS)yang dijalankan oleh Housing Development Board (HDB) di Singapura. Skema ini memungkinkan warga memiliki rumah dengan subsidi besar dan cicilan ringan hingga 99 tahun.

“Kalau sebuah program ditiru negara lain, berarti program itu berjalan dengan baik. Kita perlu adopsi hal-hal positif seperti itu,” tambah Prabowo.

Di luar sektor perumahan, Presiden Prabowo juga menyampaikan bahwa Indonesia tengah membangun lembaga investasi negara, Danantara, yang disebutnya sebagai cermin dari Temasek Holdings—perusahaan investasi milik negara Singapura yang telah sukses mengelola portofolio global.

Danantara diharapkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi jangka panjang dengan fokus pada energi, pangan, dan infrastruktur.

Dalam kunjungan ini, kedua negara juga menandatangani tiga nota kesepahaman di sektor energi bersih: perdagangan listrik rendah karbon, pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon lintas batas (CCS), serta pembangunan kawasan industri hijau di Kepulauan Riau.

Namun, perhatian utama tetap tertuju pada ambisi besar pemerintah Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dalam sektor perumahan. Dengan meniru sistem yang terbukti berhasil di negara tetangga, Indonesia berharap bisa menghadirkan hunian yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga layak dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.***