KOSONGSATU.ID—Memasuki hari ke-12 pembangunan Rumah Pintar Shiddiqiyyah (RPS) pada Ahad (6/7), relawan Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) di Sukabumi, Jawa Barat, makin ngebut. Bahkan ada satu rumah yang sudah rampung dikerjakan.

Seluruh relawan dari berbagai zona bekerja bareng, serempak, dan penuh totalitas. Seolah berlari dalam irama yang sama, meski medan dan tantangan berbeda-beda.

Untuk Zona 1, Koordinator Zona Shodiqul Azis memastikan pembangunan RPS untuk keluarga Sumardi di Desa Sukamaju, Cikakak itu sudah rampung. Tinggal beberapa polesan minor di beberapa bagian saja.

Selain kekompakan tim, kKecepatan kerja itu didukung juga oleh support yangdari warga sekitar proyek. “Hampir setiap hari Pak Lurah Sukamaju datang ke lokasi untuk menengok relawan dan memberikan support secara moral,” kata Shodiqul, dikutip Ahad (6/7).

Warga desa setempat juga kerap menengok para relawan, hampir setiap sore—tak hanya dari keluarga Sumardi si penerima program saja. Ada beberapa yang tak datang hanya buat ‘kepo’, tapi membawa buah tangan berupa camilan untuk relawan.

Jika di pos Zona 1 sudah rampung, di zona 2, 3, dan 4, dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) masih sedang dalam progres—dan hampir bisa dipastikan rampung tak lama lagi.

Untuk percepatan pembangunan pos-pos zona yang belum selesai, Zona 1 yang sudah kelar mengirimkan tiga tenaga tambahan untuk zona lainnya.

Kisah dari Berbagai Pos Zona

Di proyek Zona 2, yaitu di rumah milik penerima program bernama Oha, di Desa Sukatani, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, kemajuan pembangunannya telah mencapai 60 persen. Target penyelesaian antara 21 sampai 30 hari masih dipegang dengan optimisme tinggi.

Insya Allah rampung sebelum tanggal 17 Agustus, sebagai hadiah kemerdekaan yang nyata untuk masyarakat kecil,” kata Muchsin, koordinator Zona 2, Sabtu (5/7).

Namun, menurut Muchsin, perjuangan pembangunan Zona 2 bukan perkara mudah. Seluruh material harus diangkut sejauh 300 meter melewati gang sempit—terlalu sempit bahkan untuk dua motor berpapasan.

Sinyal telepon pun nyaris tak ada. Belanja bahan bangunan harus ditempuh jauh dari lokasi. Tapi justru dari situ muncul solusi-solusi kolektif: material diangkut manual dengan angkong, relawan bahu-membahu, bahkan dibelikan sepeda motor bekas untuk memperlancar mobilitas. Sinyal dicari hingga ke pelosok, dan muncul gagasan memasang wifi untuk menunjang fungsi RPS ke depan.

Menariknya, saat penggalian pondasi dilakukan di sini, seorang relawan menemukan kain kafan terkubur di pojok belakang rumah. “Setelah ditanyakan, Dede—anak dari penerima manfaat—membenarkan bahwa itu adalah makam almarhumah kakaknya, Siti Fatimah,” terang Muchsin.

Maka, tak hanya membangun secara fisik, para relawan juga menghidupkan sisi spiritual. Doa Kautsar diamalkan setiap hari untuk mendoakan almarhumah, dipimpin oleh tim spiritual yang memang ditugaskan khusus selama masa pembangunan. Semua proses ini berjalan berdampingan—antara bata dan doa, semen dan syafaat.

Di saat yang sama, Zona 3 tak kalah sibuk. Pembangunan rumah milik Suherman di Kampung Sukatani, Desa Wangun Sari, juga terus digenjot. “Progres fisik telah mencapai 70%, dengan instalasi listrik bahkan nyaris rampung. Acian dinding, plafon, atap, keramik, hingga cat—semua material sudah tersedia dan siap pasang,” terang Omar Saladin, Koordinator Pelaksana Pembanguan RPS Zona 3, Sabtu.

Progres pembangunan pos OPSHID Zona 3. — FOTO DOk. OPSHID Zona 3

Omar menambahkan, Zona 3 menargetkan progek selesai akhir Juli. Di sini, kata Omar, masyarakat ikut membantu saat awal pembongkaran. Meski belum terlibat penuh di proses pembangunan, mereka menyatakan siap jika dibutuhkan.

Dukungan dari aparat RT dan RW juga hadir, menjadi penyemangat tersendiri bagi personel zona ini.

Sedangkan di pos Zona 4, progres pembangunan sudah mencapai 80%. “Kami menargetkan tanggal 7 Juli sudah selesai,” kata koordinator Zona 4, Robiyanto, Sabtu (5/7).

Robiyanto memastikan, selama pengerjaan proyek rumah penerima program bernama Misbahudin, di Cisolok itu, tidak ada kendala berarti. Hanya sesekali hujan yang turut menghambat ritme pengerjaan—tapi tidak berlangsung lama.

“Warga sekitar sangat mendukung, kadang-kadang mengirimkan makanan untuk relawan, terang Robiyanti.

Di balik setiap ayunan cangkul dan peluh yang menetes, ada cita-cita yang lebih besar: menghadirkan kemerdekaan yang nyata bagi saudara-saudara yang dulu tak terdengar.***