Tarekat Shiddiqiyyah menegaskan bahwa keliru memaknai 17 Agustus sebagai kemerdekaan Republik Indonesia, bukan kemerdekaan Bangsa Indonesia, sama saja dengan menanggung dosa besar politik.


KOSONGSATU.ID—Tarekat Shiddiqiyyah punya pandangan tegas soal sejarah kemerdekaan Indonesia. Bagi tarekat yang dipimpin Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi ini, kesalahan menyebut dan memahami peristiwa 17 Agustus 1945 bukan sekadar kekeliruan sejarah, tapi bisa menjadi “dosa politik”.

Dalam sebuah pengajian akbar pada 2023, Mursyid Shiddiqiyyah yang akrab disapa Kiai Tar ini menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah rahmat dan berkat agung dari Allah Swt.

“NKRI tidak pernah dijajah. Yang dijajah selama ratusan tahun adalah Bangsa Indonesia,” demikian pesan tegas Kiai Tar—yang kerap disampaikan dalam banyak kesempatan.

Beda Bangsa dan Negara

Menurut Kiai Tar, proklamasi 17 Agustus 1945 adalah kemerdekaan Bangsa Indonesia, bukan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Negara baru terbentuk sehari setelahnya, 18 Agustus 1945, ketika Soekarno dan Hatta disahkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Karena itu, ungkapan populer “Dirgahayu Republik Indonesia” atau “Hari Kemerdekaan Republik Indonesia” dinilai salah kaprah. Bagi warga Shiddiqiyyah, istilah semacam itu justru mengaburkan fakta sejarah.

“Jika menganggap 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia, itu sama saja mengingkari dua nikmat besar Allah: rahmat kemerdekaan dan lahirnya bangsa yang merdeka,” tegas Kiai Tar.

Enam Dosa Politik

Dalam pandangan Shiddiqiyyah, ada enam “dosa besar politik” bila terus memelihara istilah keliru tersebut:

  1. Dosa terhadap Proklamasi. Karena menganggap pernyataan “Kami Bangsa Indonesia” dalam teks proklamasi tidak benar.
  2. Dosa terhadap Bapak Bangsa. Seolah para penyusun teks proklamasi salah merumuskan.
  3. Dosa terhadap Bangsa Indonesia. Bangsa yang sudah merdeka dianggap belum merdeka.
  4. Dosa terhadap NKRI. Negara dianggap pernah dijajah, lalu merdeka.
  5. Dosa terhadap sejarah. Fakta masa lalu dikaburkan.
  6. Dosa terhadap Pembukaan UUD 1945. Karena melenceng dari teks asli yang berbunyi “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa.”

Syukur dan Tradisi Khusus

Untuk menjaga kesadaran sejarah itu, warga Shiddiqiyyah diajarkan untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan cara yang khas. Mereka berpuasa setiap 17 Agustus, menggelar doa dan sujud syukur tiga hari tiga malam pada 18–20 Agustus, serta menutupnya dengan santunan yatim dan pembangunan rumah layak huni bagi fakir miskin.

Kiai Tar juga menulis lima jilid kitab Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia sebagai panduan amal warga tarekat.

Ilustrasi. – KOSONGSATU.ID

Makna yang Lebih Dalam

Bagi Shiddiqiyyah, 17 Agustus 1945 punya makna spiritual yang jauh melampaui seremoni kenegaraan. Tanggal itu bertepatan dengan 9 Ramadan 1365 H, Jumat legi, yang disebut sebagai sayyid al-ayyam—sebaik-baik hari. Angka 17 sendiri mengingatkan pada jumlah rakaat shalat lima waktu.

Karena itu, peringatan kemerdekaan selalu dipandang sebagai perayaan rahmat Allah yang paling besar bagi bangsa ini. “Kemerdekaan bukan hadiah penjajah, tapi rahmat dan berkat agung Allah,” kata Kiai Tar.

Dengan pemahaman ini, Tarekat Shiddiqiyyah mengingatkan: salah menyebut kemerdekaan bukan sekadar persoalan istilah. Ia bisa berubah menjadi dosa politik yang melukai sejarah, bangsa, bahkan jati diri Indonesia.

Penjelasan lebih detail lagi, klik di sini.